–·•Ο•·–
تعدي الفعل ولزومهFI’IL MUTA’ADDI DAN FI’IL LAZIMعَلاَمَةُ الْفِعْلِ الْمُعَدَّى أَنْ تَصِلْ ¤ هَا غَيْرِ مَصْدَرٍ بِهِ نَحْوُ عَمِلْ
Tanda
Kalimah Fi’il yang Muta’addi adalah dibenarkan kamu menyambungnya dengan “HA”
dhamir selain yg merujuk pada Masdar. Demikian seperti contoh “AMILA =
melakukan”
فَانْصِبْ بِهِ مَفْعولَهُ إِنْ لَمْ يَنُبْ ¤ عَنْ فَاعِلٍ نَحْوُ تَدَبَّرْتُ الْكُتُبْ
Maka
nashobkanlah dengan Fi’il Muta’addin ini terhadap Maf’ulnya jika ia lagi tidak
menggantikan Fa’il (tidak menjadi Naibul Fa’il) demikian seperti contoh:
“TADABBARTU ALKUTUBA = aku menelaah banyak kitab”
–·•Ο•·– |
FI’IL TAM TERBAGI MENJADI MUTA’ADDI DAN LAZIM:
ضربت زيدا
DHOROBTU ZAIDAN = Aku
memukul Zaid.
2. Definisi Fi’il Lazim adalah: kalimah Fi’il yg tidak
sampai kepada Maf’ul kecuali perantara Huruf Jar atau perantara Huruf ta’diyah
lainnya semisal Huruf Hamzah lit-ta’diyah.
Contoh Fi’il Lazim tidak sampai kepada Maf’ul
kecuali perantara Huruf Jar:
مررت بـزيد
MARORTU BI ZAIDIN = aku melewati Zaed.
Contoh Fi’il Lazim tidak sampai kepada Maf’ul
kecuali perantara Hamzah:
أخرجت الزكاة
AKHROJTU AZ-ZAKAATA = aku mengeluarkan zakat.
¤¤¤TANDA-TANDA FI’IL MUTA’ADDI DAN FI’IL LAZIM:
1. Tanda-tanda Fi’il Muta’addi:
1. Dapat disambung dengan HA
Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar (yakni Dhamir Maf’ul Bih).
2. Dapat dibentuk shighat Isim
Maf’ul Tam (tampa kebutuhan huruf jar).
Contoh dapat bersambung dengan HA Dhamir yg tidak
merujuk pada Masdar *
ضربتــه
DHOROBTUHUU = aku
memukulnya
* bukan
sebagai tanda Fi’il Mutaadi, karena HA dhamir merujuk pada Masdar sama bisa
disambung dengan Fi’il Muta’addi juga Fi’il Lazim, contoh:
الضرب ضربتــه
ADH-DHORBU DHOROBTUHUU = pukulan itu aku yg memukulnya
القيام قمتــه
AL-QIYAAMU QUMTUHUU =
berdiri itu aku yg berdirinya
Demikian juga bersambung dg HA dhamir merujuk pada
Zhorof (zaman/makan), tidak boleh sebagai tanda Fi’il Muta’addi, sebab butuh
tawassu’/taqdir huruf jar, contoh:
الليلةَ قمتــها والنهارَ صمتــها
ALLAILATA
QUMTUHAA, WAN-NAHAARO SHUMTUHAA = aku berdiri di
malam hari dan aku berpuasa di siang
hari.
Sesungguhnya taqdirannya sebelum membuang huruf
jar adalah:
الليلةَ قمت فيها والنهارَ صمت فيه
ALLAILATA
QUMTU FII HAA, WAN-NAHAARO SHUMTU FII HAA.
¤¤¤Tambahan:
Sebagian ulama Nuhat berpendapat bahwa kalimah Fi’il terbagi menjadi tiga: 1. MUTA’ADDI, 2. LAZIM dan ditambah 3. Fi’il TIDAK MUTA’ADDI PUN TIDAK LAZIM: yaitu KAANA dan saudara-saudaranya, sebab KAANA tidak menashobakan Maf’ul Bih juga tidak dapat dimuta’addikan dengan huruf jar, seperti itu juga Fi’il-fi’il yg kadang ditemukan Muta’addi sendirinya dan kadang Muta’addin dengan perantara huruf jar, seperti contoh:
شكرتــه وشكرت له
SYAKARTUHUU dan SYAKRTU LAHUU = aku berterima kasih padanya
نصحتــه ونصحت له
NASHOHTUHUU dan NASHOHTU LAHUU = aku menasehatinya.
Maka dikatakan bahwa KAANA cs, tidaklah keluar
dari pembagian Fi’il yg dua. KAANA termasuk dari Fi’il Muta’addi karena
khobarnya diserupakan Maf’ul Bihnya.
Demikian juga lafazh SYAKARTU wa SYAKARTU LAHUU
cs… tidaklah keluar dari dua pembagian fi’il: dikatakan Fi’il Muta’adi karena
lafaz SYAKARTU LAHUU Huruf Jar sebagai Zaidah. Atau dikatakan Fi’il Lazim karena
lafazh SYAKARTU naza’ khofidh atau membuang huruf jar.
Hukum Fi’il Muta’addi adalah: menashobkan terhadap MAF’UL
BIH yg tidak menjadi NAIBUL FAA’ILPengertian MAF’UL BIH (objek) adalah: Isim yg dinashobkan yg dikenai langsung oleh pekerjaan FA’IL tanpa perantaraan, baik dalam kalam Mutsbat (kalimat positif) atau dalam kalam Manfi (kalimat negatif):
Contoh KALAM MUTSBAT
فهمت الدرس
FAHIMTU AD-DARSA = aku memahami pelajaran
Contoh KALAM MANFI
لم أفهم الدرس
LAM AFHAM AD-DARSA = aku tidak memahami
pelajaran.
¤¤¤2. Tanda-tanda Fi’il Lazim:
Akan dijelaskan pada bait selanjutnya… Insya Allah.