® Rajawally Intermezo

Kisah Lelaki Jomblo Yang Melamar Gadis Cantik Jelita

Ada seorang lelaki yang tidak kunjung menikah, berumur 35 tahun, dia bernama Zahid. Zahid tinggal di Suffah masjid Madinah.
Suatu hari Zahid ditanya Rasulullah SAW "Saudaraku Zahid, kenapa engakau masih saja membujang, apakah tidak ingin menikah?". Zahid menjawab "Ya Rasulullah, aku miskin dan tidak memiliki pekerjaan tetap, wajahku juga jelek, siapa yang mau padaku". Rasulullah menanggapi "itu urusan yang mudah kalau engkau mau".

Setelah itu Rasulullah SAW meminta kepada salah seorang sahabatnya untuk menulis surat lamaran atas nama Zahid yang di tujukan kepada seorang gadis, putri dari seorang bangsawan. Gadis tersebut bernama Zulfah binti Said.

Setelah surat lamaran tersebut selesai dibuat, Rasulullah SAW menyuruh Zahid untuk menyampaikannya pada ayah Zulfah. Zahid pun menurutinya. Setelah surat tersebut sampai di tangan Said (Ayah Zulfah), Said membacanya. Nampak tegang wajah Said setelah membaca surat lamaran tersebut. Tidak lama kemudian datanglah Zulfah menghampiri ayahnya. Zulfah merasa heran melihat ayahnya nampak tegang, kemudian bertanya "Kenapa ayah nampak tegang?". Said menjawab "Pemuda ini melamarmu untuk dijadikan istrinya". Mendengar itu Zulfah menangis karena merasa direndahkan dan berkata "Banyak pemuda tampan dan kaya yang menginganku, kenapa mesti sama dia ayah? Aku tidak mau ayah".

Mendengar itu Said berkata pada Zahid "Kamu telah mendengar sendiri Zahid, anakku menolakmu. Maafkan aku, bukan aku mau menglangimu wahai saudaraku Zahid, Dan sampaikanlah permohonan maafku pada Rasulullah bahwa anakku menolak lamaranmu".

Mendengar nama Rasulullah SAW di sebut-sebut, Zulfah terkejut dan berhenti menangis, lalu bertanya pada ayahnya "Kenapa nama Rasulullah di bawa-bawa dalam masalah ini ayah?". Said menjawab "karena lamaran pemuda ini atas perintah Rasulullah". Zulfah kaget bukan main mendengar itu, seketika itu tertekuk dan menyesali sikapnya yang tadi sembari istighfar beberapa kali, Kemudian berkata "Kenapa ayah tidak bilang dari tadi kalau ini keinginan Rasulullah aku teringat ayat,
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(An Nur, ayat 51)
Aku terima lamaran ini wahai ayah, Nikahkan aku dengannya, aku senang jika ini keinginan Rasulullah"

Setelah itu pulanglah Zahid dengan hati berbunga-bunga karena lamarannya di terima. Beberapa waktu kemudian Rasulullah menjumpainya lagi dan bertanya pada Zahid "Bagaimana lamarannya Zahid?". Zahid menjawab "Lamarannya diterima ya Rasulullah". Rasulullah SAW bertanya lagi "bagaimana dengan persiapan pernikahannya?". Zahid menjawab "Aku bingung ya Rasulullah, aku belum punya". Mendengar jawaban itu Rasulullah SAW memerintahkan Zahid untuk menemui beberapa sahabatnya untuk meminta sumbangan. Zahid pun menurutinya.

Setelah dana terkumpul, Zahid membelanjakannya untuk persiapan pernikahannya.
Namun satu hari jelang pernikhannya, Zahid melihat para sahabat Nabi sedang bersiap dengan perlengkapan perang, Zahid terkejut lalu bertanya "Ada apa ini?". Diantara mereka menjawab "Memangnya kamu tidak tahu zahid, orang-orang kafir mau menyerang kita". Mendengar itu Zahid berkata "Kalau begitu akan aku jual lagi perlengkapan pernikahanku, akan aku belikan perlengkapan perang dan ikut bersama kalian"

Apa mau dikata, ternyata Zahid gugur di medan perang. Zahid mati syahid.
Mendengar calon suaminya meninggal di medan pertempuran, Zulfah tidak kuasa menahan kesedihannya dan berkata "Betapa beruntungnya calon suamiku itu, wafat dengan syahid", kemudian berdoa "Ya Allah, izinkanlah aku menjadi pendamping Zahid di akhirat kelak"



Sejarah Intelektual dan Pemikiran Hukum (Imam Madzhab)

Fiqh Imam Madzhab


Madzhab Hanafi

Kelahiran dan Sikap Politik Abu Hanifah (80-150 H/699-767 M.)

Madzhab Hanafi didirikan oleh an-Nu’man ibn Thabit ibn Zuthi, yang lebih dikenal dengan Abu Hanifah (lahir di Kufah). Beliau hidup di dua zaman (52 tahun masa Umayyah—’Abd al-Malik ibn Marwan—dan 18 tahun Abbasiyah). Sikap politiknya berpihak pada keluarga Ali (ahlul bait) yang teraniaya. Ketika Yazid ibn Umar ibn Hubairah menjadi gub. Irak, Abu Hanifah menolak menjadi hakim atau bendahara negara, sehingga dipenjara. Lolos hijrah ke Mekah. Setelah Dinasti Umayyah berakhir, beliau pulang kampung. Sayang kebijakan al-Manshur (Abbasiyah) juga menindas ahlul bait. Abu Hanifah tampil mengkritik pemerintah, dan menolak dijadikan hakim. Dipenjara dan dicambuk, meninggal di penjara (150 H).

Guru dan Murid Abu Hanifah

Cara Ijtihad Abu Hanifah

Ijtihad Tambahan Abu Hanifah
  1. Dilalah ‘am (lafad umum) adalah qath’i, seperti lafad khash
  2. Pendapat sahabat yang “tidak sejalan” dengan pendapat umum adalah bersifat khusus
  3. Banyaknya yang meriwayatkan tidak berarti lebih kuat (rajih)
  4. Menolak mafhum (makna tersirat) syarat dan shifat
  5. Apabila perbuatan rawi menyalahi riwayatnya, yang dijadikan dalil adalah perbuatannya, bukan riwayatnya
  6. Mendahulukan qiyas jali atas khabar Ahad yang dipertentangkan
  7. Menggunakan istihsan dan meninggalkan qiyas apabila diperlukan.

Fikih Abu Hanifah
  1. benda wakaf masih tetap milik wakif, wakaf = Ariyah, kecuali wakaf untuk mesjid, wakaf dengan penetapan hakim, wakaf wasiyat, dan wakaf yang diikrarkan untuk diteruskan walau wakif meninggal dunia. Abu Yusuf dan asy-Syaibani meralat pendapat ini setelah mendapatkan praktek wakaf Umar ibn al-Khattab yang tertulis dalam Shaih Bukhari “wakaf tidak boleh dijual, diwariskan, dan dihibahkan”.
  2. perempuan boleh menjadi hakim, khusus perkara perdata, bukan pidana. Alasannya qiyas; perempuan boleh menjadi saksi perdata (ashl), hakim (far’u)
  3. Abu Hanifah dan ulama Kufah; shalat gerhana dilakukan 2 raka’at seperti shalat ‘id, tidak dilakukan 2 x ruku dalam satu raka’at.

Kitab Fikih Hanafiyah

Menurut Abu Zahrah, Abu Hanifah tidak menulis kitab secara langsung kecuali beberapa ‘risalah’ kecil yang dinisbahkan kepadanya, seperti risalah al-Fiqh al-Akbar dan al-’Alim wa al-Muta’alim.

Masalah fikih dalam madzhab Hanafi dibedakan menjadi 3, yaitu: al-Ushul, an-Nawadir, dan al-Fatawa.

Al-Ushul: masalah-masalah yang termasuk zhahir ar-riwayah, yaitu pendapat yang diriwayatkan dari Abu Hanifah dan 3 sahabat/muridnya. Asy-Syaibani telah mengumpulkannya dalam Zhahir ar-Riwayah. Ada 6 kitab; al-Mabsuth/al-Ashl, al-Jami’ al-Kabir, al-Jami’ as-Shagir, as-Siyar al-Kabir, as-Siyar as-Shagir, dan az-ziyadat. Keenamnya kemudian disusun oleh Hakim as-Syahid menjadi satu kitab, al-Kafi. Al-Kafi dikomentari/disyarah oleh Syamsuddin as-Syarakhshi yang diberi nama al-Mabsuth (30 Jilid).

An-Nawadir: pendapat-pendapat yang diriwayatkan dari Abu Hanifah dan sahabatnya yang tidak terdapat dalam kitab zahir ar-riwayah. Yang termasuk an-Nawadir: al-Kaisaniyyat,ar-Ruqayyat, al-Haruniyyat, dan al-Jurjaniyyat. Setelah muridnya, ganti murid dari muridnya menyusun kitab, yaitu Ala’uddin Abi Bakr ibn Mas’ud al-Kasani al-Hanafi (w. 587H) menyusun Bada’i as-Shana’i dan Fi Tartib asy-Syara’i.

Al-Fatawa: pendapat para pengikut Abu Hanifah yang tidak diriwayatkan dari Abu Hanifah, seperti kitab an-Nawazil karya Abi al-Laith as-Samarqandi. Kitab fatawa yang terkenal: 1. al-Fatawa al-Khaniyyat oleh Qadhi Khan, 2. al-Fatawa al-Hindiyyah, 3. al-Fatawa al-Khairiyyah, 4. al-Fatawa al-Bazziyah, dan 5. al-Fatawa al-Hamidiyyah.

Kitab Hanafiyah Muta’akhkhirin: Jami al-Fushulain, Dlarar al-Hukkam, Multaqa al-Akhbar, Majmu’ al-Anshar, dan Radd al-Mukhtar atau Hasiyah ibn ‘Abidin.

Kitab Ushul fikih: karya Abu Zaid ad-Dabusi (w. 430 H), Fakhr al-Islam al-Bazdawi, dan an-Nasafi (w. 790 H) + syarahnya, Misykat al-Anwar.

Kitab Qawa`id al-Fiqh: Usul al-Karkhi, Tasis an-Nadzar = Abu Zaid ad-Dabusi, al-Asybah wan-Nadza’ir karya Ibnu Nujaim, Majami’ al-Haqa’iq karya Abu Sa’id al-Khadimi (w. 1176H), Majallah al-Ahkam al-’Adliyah (Turki Usmani, 1292 H), al-Fawa’id al-Bahiyah fi al-Qawa’id wal-Fawa’id karta Ibnu Hamzah (w.1305 H), dan Qawa’id al-Fiqh karya Mujaddidi.


Madzhab Maliki

Didirikan oleh Imam Malik, 93-179 H (Malik ibn Anas ibn Abi ‘Amar al-Ashbahi, lahir di Madinah, 93 H). Ulama 2 jaman, Umayah-al-Walid ‘Abd al-Malik (40 tahun), dan Abasiyah-Harun al-Rasyid (46 tahun).

Guru dan Murid Imam Malik

Cara Ijtihad Imam Malik

5 langkah (Ushul Khamsah)
  1. mengambil dari al-Qur’an
  2. menggunakan zhahir al-Qur’an (lafad umum)
  3. menggunakan dalil al-Qur’an (mafhum muwafaqah)
  4. menggunakan mafhum al-Qur’an (Mafhum mukhalafah)
  5. menggunakan tanbih al-Qur’an (perhatikan ‘illat)
Langkah berikutnya: 1. ijmak, 2. qiyas, 3. amal penduduk Madinah, 4. Istihsan, 5. sadd az-zari’ah, 6. al-masalih al-mursalah, 7. qaul shahabi, 8. mura’at al-khilaf, 9. al-istishab, dan 9. syar’u man qablana.

Ijma’ Ulama Madinah; menurut Musthafa Daib al-Bu’a, beliau lebih mengutamakan ijma ulama Madinah daripada qiyas, khabar Ahad, dan qaul shahabat.

Fikih Imam Malik berdasarkan Ijma’ dan amal ulama Madinah:
  1. kesucian mustahadah; mustahadah diwajibkan 1x mandi, setelah itu cukup dengan berwudhu (kebanyakan ulama: wajib mandi setiap akan shalat, 3 x mandi sehari—dhuhur-ashar, maghrib-isya, dan subuh).
  2. berjimak dengan mustahadhah, boleh jika darahnya telah kering (= pendapat Abu Hanifah dan asy-Syafi’i)
  3. Iqamah shalat. Bacaannya satu kali, awal-akhir (Allahu Akbar) dan qad qamat as-Shalah.
  4. Bacaan shalat di belakang imam; makmum disunatkan membaca bacaan shalat jika bacaan imam tidak terdengar (berbeda dengan pendapat Abdullah ibn Umar)
  5. Takbir zawa’id shalat hari raya; rakaat pertama 7x (sudah dengan takbiratul ihram), rakaat ke-2, 5 x takbir. (Syafi’i, rakaat pertama 7 x ditambah takbiratul ihram sendiri, jadi 8 x)
  6. Jumlah rakaat minimal witir, 3 rakaat dengan 2 salam (Abu hanifah 3 rakaat dengan satu salam, Syafi’i minimal witir 1 rakaat. Pendapat syafii diikuti imam Ahmad ibn Hanbal).
  7. Salat musafir, jika musafir niat ta’khir tapi ternyata sudah sampai rumah (muqim), ia tetap harus melaksanakan shalat sebagi musafir karena ia dibebani shalat ketika musafir (= Abu Hanifah. Sedangkan Syafi’i, wajib shalat sebagai muqim).
  8. Bacaan shalat jenazah, setelah takbir pertama memuji Allah (bukan al-Fatihah), dan setelah takbir ke-4 salam (bukan do’a) (berbeda dengan Sfafi’i dan Ibn Qudamah).
  9. Sujud Tilawah , dianjurkannya sujud tilawah ada di 11 ayat, sedang dalam surat al-hajj, an-Najm, al-Insyiqaq, dan al-’Alaq/al-qalam tidak dianjurkan (Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad, 14 tempat/ayat).
  10. Zakat harta milik yang mempunyai utang. Jika mempunyai harta + hutang, wajib zakat setelah utang dibayar dan memang mencapai/lebih dari nishab, jika kurang dari se-nishab, tidak wajib (= Abu Hanifah, karena hutang menjadi penghalang kewajiban zakat. Sedangkan Syafi’i, hutang bukan penghalang, sehingga tetap wajib zakat jika sudah se-nishab tanpa terlebih dahulu dipotong utangnya.
  11. Zakat utang. Piutang yang sudah sampai senishab wajib dikeluarkan zakatnya jika telah kembali, atau dicicil + dengan harta sendiri sudah se-nishab, wajib zakat. (Syafi’i, piutang yang mencapai haul dan nishab wajib dikeluarkan zakatnya—walau belum di kembalikan, tapi mungkin diambil. Jika sulit diambil, tidak wajib zakat=Ah.
  12. Tanaman dan buah-buahan yang wajib dizakati.harta yang tidak termasuk buah-buahan dan tanaman tidak wajib dizakati, buah delima dan tin juga tidak wajib zakat (Abu Hanifah; setiap yang tumbuh wajib dizakati kecuali kayu bakar, tmbuhan berbuku dan beruas, dan rumput (Yusuf dan Syaibani, hanya tanaman yang berbuah). Syafi’i, hanya tanaman yang sengaja ditanam yang wajib dizakati).
  13. Berhenti Talbiyah. Talbiyah tidak diucapkan lagi jika matahari terbenam pada hari Arafah (berdasar pendapat Ali ibn Abi Talib)
  14. Khiyar Majlis, tidak ada (= Abu Hanifah) karena jual beli telah lazim (mengikat) jika sudah ada ijab qabul. (Syafi’i dan Ahmad, ada khiyar majlis. Jual beli belum lazim setelah ijab qabul selama keduanya masih berada dalam satu tempat yang sama dan belum berpisah).
  15. Barter gandum dengan jelai dengan tambahan. Jelai dan gandum sejenis jadi tidak boleh ditukar dengan tambahan (Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad, keduanya tidak sejenis, jadi boleh ditukar dengan tambahan).
  16. Bapak menikahkan gadisnya tanpa ijin sah (diikuti Syafi’i. Abu Hanifah, wali tidak boleh memaksa jika gadisnya sudah dewasa).
  17. Hak Bulan madu bagi suami poligami, 7 hari jika istri barunya gadis dan 3 hari jika janda, diikuti Syafi’i (Abu Hanifah, tidak membedakan gadis dan janda)
  18. Kadar susuan yang mengharamkan perkawinan. Setiap susuan dapat menjadi sebab haramnya menikah dengan ibu dan saudara sesusuan, sebab banyak/sedikitnya susuan adalah sama (= Abu Hanifah. Sedangkan Syafi’i, susuan minimal 5 x secara terpisah—berdasarkan hadis Aisyah. Mazhab Hanbali ada 3 pendapat: sedikit/banyak, 3 x, dan 5x/lebih susuan yang menjadi haram menikahi)
  19. Talak dua yang berkelanjutan. Cerai satu/dua, menikah dengan orang lain. kemudian kembali lagi mantan suaminya, menceraikan lagi (dihitung telah talak tiga) (= Syafi’i. Abu Hanifah dan Abu Yusuf, tidak melanjutkan, sehingga dihitung seperti awal atau talak satu).
  20. Pengaruh zina terhadap perkawinan. Zina tidak dapat menentukan kekerabatan, karena itu anaknya boleh menikah dengan perempuan yang pernah berzina dengan bapaknya (diikuti Syafi’i. Berbeda Abu Hanifah, zina menentukan kekerabatan, tidak boleh menikah)
  21. Kesaksian penuduh zina setelah tobat, dapat diterima (diikuti Syafii dan Ahmad,Abu Hanifah berbeda = tidak dapat diterima kesaksiannya Qadzif).

Pendapat Imam Malik
  • tentang wanita yang menikah pada masa iddah dan telah dukhul. Wajib dipisahkan dan haram selamanya menikah dengan laki-laki yang menikahi dalam masa iddah (Abu Hanifah, Syafi’i dan ath-Thawri, dipisahkan untuk menghabiskan iddah dan boleh kembali)
  • Shalat gerhana 2 rakaat dengan 2x ruku’ setiap rakaatnya (berdasar hadis A’isyah)
  • Mahar minimal 3 dirham/seperempat Dinar, diqiyaskan dengan nishab harta curian yang dikenai sanksi potong tangan.

Kitab-kitab Malikiyyah

Di antara pengikutnya yang terkenal: Asad ibn al-Furat, Abdus-Salam at-Tanukhi (Sahnun), Ibn Rusyd, al-Qurafi, dan asy-Syatibi.

Kitab utama:
  1. al-Muwatta, disyarah oleh:
    - M.Zakaria al-Kandahlawi, Aujaz al-Masalik ila muwatta Malik
    - M. Ibn ‘Abd al-Baqi az-Zarqani, Syarh az-Zarqani ala muwatta al-imam Malik
    -Jalaluddin abd Rahman as-Suyuti as-Syafi’i, Tanwir al-Hawalik Syarh ‘ala muwatta.
  2.  al-Mudawwanah al-Kubra karya at-Tanukhi
  3. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid karya Ibn Rusyd al-Qurtubi al-Andalusi
  4. Fath ar-Rahim ‘ala fiqh al-imam malik bil-Adillah
  5. al-I’tisham, Abi Ishaq ibn Musa asy-Syatibi

Kitab U.Fiqh dan Qawaid Maliki
  1. Syarh Tanqih al-Fushul fi Ikhtishar al-Mahshul fil-Ushul, karya Syihabuddin al-Qurafi
  2. al-Muwafaqat fi Ushul al-Ahkam, asy-Syatibi
  3. Ushul al-Futiya, M. Ibn al-Haris al-Husaini
  4. al-Furuq, al-Qurafi (w. 684H)
  5. al-Qawa’id karya al-Maqqari (w. 758H)


Madzhab Syafi’i

Kelahiran Imam Syafi’i (150-204 H)

Nama lengkapnya: Muhammad ibn Idris ibn al-Abbas ibn Usman ibn Syafi’ ibn as-Sa’ib ibn ‘Ubaid ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn ‘Abd al-Muthalib ibn ‘Abd Manaf. Lahir di Gazza (dekat Palestina), kemudian dibawa ibunya ke Mekah, meninggal di Mesir.

Perjalanan hidupnya, lahir pada masa Bani Abbas (Abu Ja’far al-Manshur). Belajar hadis dan fikih di Mekah, pindah ke Madinah belajar pada Imam Malik. Setelah Imam Malik meninggal (179), Syafi’i menjadi PN di Yaman. Gub Yaman menuduhnya bersekongkol dengan ahlul bait untuk menggulingkan pemerintah, tapi ia lolos berkat bantuan qadli Bagdad Muhannad ibn al-Hasan asy-Syaibani. Syafi’i belajar pada asy-Syaibani mempelajari fikih Iraq. Kembali ke Mekah, mengajar di mesjid al-Haram fikih dengan dua corak (9 tahun), tahun 195 kembali lagi ke Iraq (2 tahun beberapa bulan). Tidak betah di Iraq karena al-Makmun cenderung berpihak pada unsur Persia dan dekat dengan Mu’tazilah. Menolak jadi hakim dan pindah ke Mesir.

Guru dan Murid Syafi’i; dalam peta aliran pemikiran fikih sunni, ia mrp ulama “sintesis” dari dua aliran yang berbeda; aliran Madinah dan Iraq. Ia juga mempelajari fikih al-Auza’i dari Umar ibn Abi Salamah dan mempelajari fikih al-Laith dari Yahya ibn Hasan.

Cara Ijtihad Imam Syafi’i

Thuruq al-Istinbat al-Ahkam Syafi’i:
  1. Rujukan pokok/asal adalah al-Qur’an dan Sunnah; jika tidak ada, ia melakukan qiyas terhadap keduanya
  2. Sunnah digunakan jika muttasil dan sanadnya sahih
  3. Ijma lebih diutamakan atas khabar mufrad
  4. makna hadis yang diutamakan adalah makna zhahir (jika lafadznya ihtimal = mengandung makna lain); hadis munqathi tertolak kecuali riwayat Ibn al-Musayyab
  5. asal (pokok) tidak boleh diqiyas/analogikan kepada asal/pokok; al-Qur’an dan as-Sunnah tidak boleh dipertanyakan lima wa kaifa (karena ini pertanyaan pada furu’)
  6. Qiyas dapat menjadi hujjah jika peng-qiyasannya benar

Kesimpulan: dalil hukum Syafi’i adalah al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’. Teknik ijtihadnya adalah Qiyas dan Takhyir jika menghadapi ikhtilaf pendahulunya.

Qaul Qadim dan Qaul Jadid

Qaul Qadim; pendapat Syafi’i yang dikemukakan di Iraq, bercorak ra’yu

Qaul Jadid; pendapat Syafi’i ketika di Mesir—bertemu dan berguru dengan sahabat Imam Malik–, bercorak hadis (mulai tahun 199 H)

Sebab munculnya qaul jadid; 1. Syafi’i mendengar dan menemukan hadis dan fikih yang diriwayatkan ulama Mesir yang tergolong ahlul-hadis—yang tidak didapatkan di Iraq dan Hijaz, 2. ia menyaksikan adat dan kegiatan muamalah yang berbeda dengan di Iraq. Qaul Jadid dikumpulkan di al-Umm. Jadi qaul jadid adalah refleksi dari kehidupan sosial yang berbeda.

Kitab yang menghimpun qaul qadim dan jadid adalah; 1. al-Muhadzab fil-fiqh al-Imam asy-Syafi’i karya Abi Ishaq Ibrahim asy-Syirazi, 2. al-Imam asy-Syafi’i fi Madzhabaih al-Qadim wa al-jadid karya Ahmad Nahrawi Abdussalam.

Adanya qaul qadim dan jadid sering dijadikan alasan oleh pembaharu untuk memodifikasi fikih Islam


Pendapat Syafi’i
  1. Imamah; termasuk masalah agama—amr diniy, karenanya mendirikan imamah merupakan kewajiban agama—bukan sekedar kewajiban aqli. Pemimpin umat Islam harus orang Islam dan non-muslim terlindungi. Pemimpin mesti dari kalangan Quraish berdasarkan hadis yang dijadikan kunci penyelesaian konflik di saqifah Bani Sa’adah (Bukhari, VIII: 105 dan Muslim, II: 120). Kriteria pemimpin berkualitas: berakal, dewasa, merdeka, muslim, laki-laki, dapat berijtihad, berkemampuan manajerial/tadbir, gagah berani, melakukan perbaikan agama, dan quraish.
  2. Hakim Perempuan, tidak boleh secara mutlak, diqiyaskan dengan tidak bolehnya perempuan menjadi pemimpin. Syarat hakim: muslim, dewasa, merdeka, laki-laki, adil, dapat mendengar, melihat, berbicara, berkecukupan, dan mampu berijtihad.

Rujukan Syafi’iyah

Rujukan utama yang pada awalnya diimlakan kemudian ditulisnya adalah kitab al-Umm (hujjah al-ula), kedua ar-Risalah (karena kitab ini, Syafi’i dianggap sebagai Bapak Ushul Fiqih). Kitab yang lain: Musnad lisy-Syafi’i, al-Hujjah, dan al-Mabsuth.

Kitab Kaidah Fikih:

  1. Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam karya Ibnu Abdis-Salam (w. 660H), 
  2. 4 kitab al-Asybah wan-Nadza’ir karya Ibnu Wakil (w.716), Tajuddin as-Subki (w. 771), Ibn Mulaqqin (w. 804H), dan Jalaluddin as-Suyuti (w. 911 H).


Madzhab Hanbali

Kelahiran Ahmad ibn Hanbal (164-241H)

Nama lengkapnya Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad asy-Syaibani al-Marwazi. Lahir di Baghdad pada masa khalifah Musa al-Mahdi. Pada masa al-Makmun, madzhab negara adalah Mu’tazilah. Ia terkena mihnah karena tidak menjawab khalq al-qur’an ‘makhluq/tidak (qadim), dipenjara pada masa Mu’tashim (220H). Jamannya al-Watsiq, dikeluarkan—jadi tahanan rumah, baru setelah al-Mutawakkil, mihnah dihapuskan.

Beliau disepakati sebagai ahli hadis, tetapi kepakarannya dalam bidang fikih diperselisihkan. Ibnu Jarir at-Thabari, Ibnu Qutaibah—dalam kitab al-Ma’arif—dan al-Maqdisi mengelompokkannya sebagai ahli hadis, bukan ahli fikih.

Guru dan Murid Imam Ahmad

Cara Ijtihad Imam Ahmad

Menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, pendapat Imam Ahmad dibangun atas 5 dasar:
  1. an-Nusus dari al-Qur’an dan Sunnah, makna tersurat (tersirat diabaikan)
  2. Jika tidak ada nusus, menukil fatwa sahabat yang disepakati. Jika berbeda-beda, ambil pendapat yang lebih dekat kepada nusus
  3. Memakai hadis mursal dan dha’if apabila tidak ada atsar, qaul sahabat, atau ijmak yang menyalahinya
  4. Jika tidak ada mursal dan daif, memakai qiyas (qiyas jika terpaksa
  5. Memakai sadd az-Zara’i (preventiv terhadap hal negatif).

Fikih Ahmad ibn Hanbal

  1. Nishab harta curian yang pelakunya dikenai sanksi potong tangan adalah ¼ dinar atau 3 dirham; pencuri dengan kadar ¼ dinar harus dipotong tangannya meskipun tidak sebanding dengan 3 dirham, begitu juga jika sudah mencapai 3 dirham walaupun tidak sebanding dengan ¼ dinar.
  2. Dalam bidang pemerintahan, mewajibkan ketaatan mutlak pada pemimpin—baik/jahat. Tidak taat = maksiyat, mati dalam keadaan jahiliyyah.
  3. Muamalah, membenarkan adanya khiyar majlis; selama belum berpisah, belum lazim, berdasar hadis dari Nafi dan Abdullah ibn Umar: والمتبيعان كل واحد منهما بالخيار مالم يتفرقا بابدانهما

Kitab-kitab Hanabilah

  1. Mukhtashar al-Khurqi, Abul-Qasim Umar ibn al-Hasan al-Khurqi (w. 334H), yang di syarh oleh Ibnu Qudamah (w.620), yaitu al-Mughni Syarh ala Mukhtashar al-Khurqi
  2. Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah, Taqiyuddin Ahmad ibn Taimiyyah (w. 728)
  3. Ghayat al-Muntaha fil-Jam’i bainal-Iqna’ wal-Muntaha, Mar’i ibn Yusuf al-Hanbali (w. 1032H), dan
  4. Al-Jami’ al-Kabir, Ahmad ibn Muhammad ibn Harun/Abu Bakar al-Khallal.


Madzhab Zhahiri

Pendirinya Abu Sulaiman Daud ibn ‘Ali ibn Khalaf al-Ashbahani al-Baghdadi (202-270H), lahir di Baghdad. Setelah selang waktu yang cukup lama, madzhab ini diteruskan oleh Ibnu Hazm al-Andalusi (384-456H).

Disebut aliran Zhahiri, karena dinisbahkan kepada gelar pendirinya, Daud az-Zhahiri. Diberi gelar az-Zhahiri karena pendapatnya tentang cara memahami al-Qur’an dan Sunnah, yakni dengan menggunakan makna zhahir.

Awalnya imam Daud belajar fikih Syafi’i kepada gurunya di Baghdad, kemudian melakukan perjalanan ke Naisabur untuk belajar Hadis. Setelah itu keluar dari aliran Syafi’i dan membangun aliran sendiri.

Alasan keluar, Syafi’i berpendapat nash bisa dipahami secara tersurat maupun tersirat. Daud menolak, menurutnya, Syari’ah itu terkandung hanya dalam nash, tidak ada wilayah ra’yu dalam syari’ah, sehingga qiyas juga batal. “Sasya mengambil dalil Syafi’i dalam membatalkan Istihsan. Saya mendapatkan alasan itu untuk menolak qiyas”. Sangat anti qiyas, bahkan ia berkata “Yang pertama melakukan qiyas adalah Iblis”



Pemikiran Fiqih Para Imam Madzhab

Berdasarkan keberadaannya, madzhab fiqh ada yang masih utuh dan dianut oleh masyarakat tertentu, namun ada pula yang telah punah. Menurut aspek teologis, madzhab fiqh dibagi dalam dua kelompok, yaitu madzhab Ahlussunnah dan madzhab Syi’ah.
Dalam perkembangan fiqh di kenal beberapa madzhab fiqh. Berdasarkan keberadaannya, madzhab fiqh ada yang masih utuh dan dianut masyarakat tertentu, namun ada pula yang telah punah. Sedangkan berdasarkan aspek teologisnya, madzhab fiqh dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu madzhab Ahlusunnah dan madzhab Syiah.
madzhab Ahlussunnah
madzhab ini terdiri atas 4 (empat) madzhab populer yang masih utuh sampai sekarang, yaitu sebagai berikut:

1. Madzhab Hanafi
Pemikiran fiqh dari madzhab ini diawali oleh Imam Abu Hanifah. Ia dikenal sebagai imam Ahlurra’yi serta faqih dari Irak yang banyak dikunjungi oleh berbagai ulama di zamannya.
madzhab Hanafi dikenal banyak menggunakan ra’yu, qiyas, dan istihsan. Dalam memperoleh suatu hukum yang tidak ada dalam nash, kadang-kadang ulama madzhab ini meninggalkan qaidah qiyas dan menggunakan qaidah istihsan. Alasannya, qaidah umum (qiyas) tidak bisa diterapkan dalam menghadapi kasus tertentu. Mereka dapat mendahulukan qiyas apabila suatu hadits mereka nilai sebagai hadits ahad.
Yang menjadi pedoman dalam menetapkan hukum Islam (fiqh) di kalangan madzhab Hanafi adalah Al-Qur’an, sunnah Nabi SAW, fatwa sahabat, qiyas, istihsan, ijma’i. Sumber asli dan utama yang digunakan adalah Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW, sedangkan yang lainnya merupakan dalil dan metode dalam meng-istinbat-kan hukum Islam dari kedua sumber tersebut.
Tidak ditemukan catatan sejarah yang menunjukkan bahwa Imam Abu Hanifah menulis sebuah buku fiqh. Akan tetapi pendapatnya masih bisa dilacak secara utuh, sebab muridnya berupaya untuk menyebarluaskan prinsipnya, baik secara lisan maupun tulisan. Berbagai pendapat Abu Hanifah telah dibukukan oleh muridnya, antara lain Muhammad bin Hasan asy-Syaibani dengan judul Zahir ar-Riwayah dan an-Nawadir. Buku Zahir ar-Riwayah ini terdiri atas 6 (enam) bagian, yaitu:

• Bagian pertama diberi nama al-Mabsut;
• Bagian kedua al-Jami’ al-Kabir;
• Bagian ketiga al-Jami’ as-Sagir;
• Bagian keempat as-Siyar al-Kabir;
• Bagian kelima as-Siyar as-Sagir; dan
• Bagian keenam az-Ziyadah.

Keenam bagian ini ditemukan secara utuh dalam kitab al-Kafi yang disusun oleh Abi al-Fadi Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Maruzi (w. 344 H.). Kemudian pada abad ke-5 H. muncul Imam as-Sarakhsi yang mensyarah al-Kafi tersebut dan diberi judul al-Mabsut. Al-Mabsut inilah yang dianggap sebagai kitab induk dalam madzhab Hanafi.
Disamping itu, madzhab Hanafi juga dilestarikan oleh murid Imam Abu Hanifah lainnya, yaitu Imam Abu Yusuf yang dikenal juga sebagai peletak dasar usul fiqh madzhab Hanafi. Ia antara lain menuliskannya dalam kitabnya al-Kharaj, Ikhtilaf Abu Hanifah wa Ibn Abi Laila, dan kitab-kitab lainnya yang tidak dijumpai lagi saat ini.
Ajaran Imam Abu Hanifah ini juga dilestarikan oleh Zufar bin Hudail bin Qais al-Kufi (110-158 H.) dan Ibnu al-Lulu (w. 204 H). Zufar bin Hudail semula termasuk salah seorang ulama Ahlulhadits. Berkat ajaran yang ditimbanya dari Imam Abu Hanifah langsung, ia kemudian terkenal sebagai salah seorang tokoh fiqh madzhab Hanafi yang banyak sekali menggunakan qiyas. Sedangkan Ibnu al-Lulu juga salah seorang ulama madzhab Hanafi yang secara langsung belajar kepada Imam Abu Hanifah, kemudian ke pada Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani.


2. Madzhab Maliki.
Pemikiran fiqh madzhab ini diawali oleh Imam Malik. Ia dikenal luas oleh ulama sezamannya sebagai seorang ahli hadits dan fiqh terkemuka serta tokoh Ahlulhadits.
Pemikiran fiqh dan usul fiqh Imam Malik dapat dilihat dalam kitabnya al-Muwaththa’ yang disusunnya atas permintaan Khalifah Harun ar-Rasyid dan baru selesai di zaman Khalifah al-Ma’mun. Kitab ini sebenarnya merupakan kitab hadits, tetapi karena disusun dengan sistematika fiqh dan uraian di dalamnya juga mengandung pemikiran fiqh Imam Malik dan metode istinbat-nya, maka buku ini juga disebut oleh ulama hadits dan fiqh belakangan sebagai kitab fiqh. Berkat buku ini, madzhab Maliki dapat lestari di tangan murid-muridnya sampai sekarang.
Prinsip dasar madzhab Maliki ditulis oleh para murid Imam Malik berdasarkan berbagai isyarat yang mereka temukan dalam al-Muwaththa’. Dasar madzhab Maliki adalah Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, Ijma’, Tradisi penduduk Madinah (statusnya sama dengan sunnah menurut mereka), Qiyas, Fatwa Sahabat, al-Maslahah al-Mursalah, ‘Urf; Istihsan, Istishab, Sadd az-Zari’ah, dan Syar’u Man Qablana. Pernyataan ini dapat dijumpai dalam kitab al-Furuq yang disusun oleh Imam al-Qarafi (tokoh fiqh madzhab Maliki). Imam asy-Syatibi menyederhanakan dasar fiqh madzhab Maliki tersebut dalam empat hal, yaitu Al-Qur’ an, sunnah Nabi SAW, ijma’, dan rasio. Alasannya adalah karena menurut Imam Malik, fatwa sahabat dan tradisi penduduk Madinah di zamannya adalah bagian dari sunnah Nabi SAW. Yang termasuk rasio adalah al-Maslahah al-Mursalah, Sadd az-Zari’ah, Istihsan, ‘Urf; dan Istishab. Menurut para ahli usul fiqh, qiyas jarang sekali digunakan madzhab Maliki. Bahkan mereka lebih mendahulukan tradisi penduduk Madinah daripada qiyas.
Para murid Imam Malik yang besar andilnya dalam menyebarluaskan madzhab Maliki diantaranya adalah Abu Abdillah Abdurrahman bin Kasim (w. 191 H.) yang dikenal sebagai murid terdekat Imam Malik dan belajar pada Imam Malik selama 20 tahun, Abu Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim (w. 197 H.) yang sezaman dengan Imam Malik, dan Asyhab bin Abdul Aziz al-Kaisy (w. 204 H.) serta Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Hakam al-Misri (w. 214 H.) dari Mesir. Pengembang madzhab ini pada generasi berikutnya antara lain Muhammad bin Abdillah bin Abdul Hakam (w. 268 H.) dan Muhammad bin Ibrahim al-Iskandari bin Ziyad yang lebih populer dengan nama Ibnu al-Mawwaz (w. 296 H.).
Disamping itu, ada pula murid-murid Imam Malik lainnya yang datang dari Tunis, Irak, Hedjzaz, dan Basra. Disamping itu madzhab Maliki juga banyak dipelajari oleh mereka yang berasal dari Afrika dan Spanyol, sehingga madzhab ini juga berkembang di dua wilayah tersebut.


3. Madzhab Syafi’i
Pemikiran fiqh madzhab ini diawali oleh Imam asy-Syafi’i. Keunggulan Imam asy-Syafi’i sebagai ulama fiqh, usul fiqh, dan hadits di zamannya diakui sendiri oleh ulama sezamannya.
Sebagai orang yang hidup di zaman meruncingnya pertentangan antara aliran Ahlulhadits dan Ahlurra ‘yi, Imam asy-Syafi ‘i berupaya untuk mendekatkan pandangan kedua aliran ini. Karenanya, ia belajar kepada Imam Malik sebagai tokoh Ahlulhadits dan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani sebagai tokoh Ahlurra’yi.
Prinsip dasar madzhab Syafi’i dapat dilihat dalam kitab usul fiqh ar-Risalah. Dalam buku ini asy-Syafi’i menjelaskan kerangka dan prinsip mazhabnya serta beberapa contoh merumuskan hukum far’iyyah (yang bersifat cabang). Dalam menetapkan hukum Islam, Imam asy-Syafi’i pertama sekali mencari alasannya dari Al-Qur’an. Jika tidak ditemukan maka ia merujuk kepada sunnah Rasulullah SAW. Apabila dalam kedua sumber hukum Islam itu tidak ditemukan jawabannya, ia melakukan penelitian terhadap ijma’ sahabat. Ijma’ yang diterima Imam asy-Syafi’i sebagai landasan hukum hanya ijma’ para sahabat, bukan ijma’ seperti yang dirumuskan ulama usul fiqh, yaitu kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum, karena menurutnya ijma’ seperti ini tidak mungkin terjadi. Apabila dalam ijma’ tidakjuga ditemukan hukumnya, maka ia menggunakan qiyas, yang dalam ar-Risalah disebutnya sebagai ijtihad. Akan tetapi, pemakaian qiyas bagi Imam asy-Syafi ‘i tidak seluas yang digunakan Imam Abu Hanifah, sehingga ia menolak istihsan sebagai salah satu cara meng-istinbat-kan hukum syara’
Penyebarluasan pemikiran madzhab Syafi’i berbeda dengan madzhab Hanafi dan Maliki. Diawali melalui kitab usul fiqhnya ar-Risalah dan kitab fiqhnya al-Umm, pokok pikiran dan prinsip dasar madzhab Syafi ‘i ini kemudian disebarluaskan dan dikembangkan oleh para muridnya. Tiga orang murid Imam asy-Syafi ‘i yang terkemuka sebagai penyebar luas dan pengembang madzhab Syafi’i adalah Yusuf bin Yahya al-Buwaiti (w. 231 H./846 M.), ulama besar Mesir; Abi Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H./878 M.), yang diakui oleh Imam asy-Syafi ‘i sebagai pendukung kuat mazhabnya; dan ar-Rabi bin Sulaiman al-Marawi (w. 270 H.), yang besar jasanya dalam penyebarluasan kedua kitab Imam asy-Syafi ‘i tersebut.


4. Madzhab Hanbali
Pemikiran madzhab Hanbali diawali oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Ia terkenal sebagai ulama fiqh dan hadits terkemuka di zamannya dan pernah belajar fiqh Ahlurra’yi kepada Imam Abu Yusuf dan Imam asy-Syafi’i.
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziah, prinsip dasar madzhab Hanbali adalah sebagai berikut:
1. An-Nusus (jamak dari nash), yaitu Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, dan Ijma’;
2. Fatwa Sahabat;
3. Jika terdapat perbedaan pendapat para sahabat dalam menentukan hukum yang dibahas, maka akan dipilih pendapat yang lebih dekat dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW;
4. Hadits mursal atau hadits daif yang didukung oleh qiyas dan tidak bertentangan dengan ijma’; dan
5. Apabila dalam keempat dalil di atas tidak dijumpai, akan digunakan qiyas. Penggunaan qiyas bagi Imam Ahmad bin Hanbal hanya dalam keadaan yang amat terpaksa. Prinsip dasar madzhab Hanbali ini dapat dilihat dalam kitab hadits Musnad Ahmad ibn Hanbal. Kemudian dalam perkembangan madzhab Hanbali pada generasi berikutnya, madzhab ini juga menerima istihsan, sadd az-Zari’ah, ‘urf; istishab, dan al-maslahah al-mursalah sebagai dalil dalam menetapkan hukum Islam.
Para pengembang madzhab Hanbali generasi awal (sesudah Imam Ahmad bin Hanbal) diantaranya adalah al-Asram Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani al-Khurasani al-Bagdadi (w. 273 H.), Ahmad bin Muhammad bin al-Hajjaj al-Masruzi (w. 275 H.), Abu Ishaq Ibrahim al-Harbi (w. 285 H.), dan Abu al-Qasim Umar bin Abi Ali al-Husain al-Khiraqi al-Bagdadi (w. 324 H.). Keempat ulama besar madzhab Hanbali ini merupakan murid langsung Imam Ahmad bin Hanbal, dan masing-masing menyusun buku fiqh sesuai dengan prinsip dasar madzhab Hanbali di atas.
Tokoh lain yang berperan dalam menyebarluaskan dan mengembangkan madzhab Hanbali adalah Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziah. Sekalipun kedua ulama ini tidak selamanya setuju dengan pendapat fiqh Imam Ahmad bin Hanbal, mereka dikenal sebagai pengembang dan pembaru madzhab Hanbali. Disamping itu, jasa Muhammad bin Abdul Wahhab dalam pengembangan dan penyebarluasan madzhab Hanbali juga sangat besar. Pada zamannya, madzhab Hanbali menjadi madzhab resmi Kerajaan Arab Saudi.


Madzhab Syiah

Madzhab fiqh Syiah yang populer adalah Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah.

1. Madzhab Syiah Zaidiyah
madzhab ini dikaitkan kepada Zaid bin Ali Zainal Abidin (w. 122 H./740 M.), seorang mufasir, muhaddits, dan faqih di zaman-nya. Ia banyak menyusun buku dalam berbagai bidang ilmu. Dalam bidang fiqh ia menyusun kitab al-Majmu’ yang menjadi rujukan utama fiqh Zaidiyah. Namun ada diantara ulama fiqh yang menyatakan bahwa buku tersebut bukan tulisan langsung dari Imam Zaid. Namun Muhammad Yusuf Musa (ahli fiqh Mesir) menyatakan bahwa pemyataan tersebut tidak didukung oleh alasan yang kuat. Menurutnya, Imam Zaid di zamannya dikenal sebagai seorang faqih yang hidup sezaman dengan Imam Abu Hanifah, sehingga tidak mengherankan apabila Imam Zaid menulis sebuah kitab fiqh. Kitab al-Majmu’ ini kemudian disyarah oleh Syarifuddin al-Husein bin Haimi al-Yamani as-San’ani (w.1221 H.) dengan judul ar-Raud an-Nadir Syarh Majmu, al-Fiqh al-Kabir.
Para pengembang madzhab Zaidiyah yang populer diantaranya adalah Imam al-Hadi Yahya bin Husein bin Qasim (w. 298 H.), yang kemudian dikenal sebagai pendiri madzhab Hadawiyah. Dalam menyebarluaskan dan mengembangkan madzhab Zaidiyah, Imam al-Hadi menulis beberapa kitab fiqh. di antaranya Kitab al-Jami’ fi al-Fiqh, ar-Risalah fi al-Qiyas, dan al-Ahkam fi al-Halal wa al-Haram. Setelah itu terdapat imam Ahmad bin Yahya bin Murtada (w. 840 H.) yang menyusun buku al-Bahr az-Zakhkhar al-Jami’ li Mazahib ‘Ulama’ al-Amsar.
Pada dasarnya fiqh madzhab Zaidiyah tidak banyak berbeda dengan fiqh ahlulsunnah. Perbedaan yang bisa dilacak antara lain: ketika berwudlu tidak perlu menyapu telinga, haram memakan makanan yang disembelih non-muslim, dan haram mengawini wanita ahlulkitab. Disamping itu, mereka tidak sependapat dengan Syiah Imamiyah yang menghalalkan nikah mut’ah. Menurut Muhammad Yusuf Musa, pemikiran fiqh madzhab Zaidiyah lebih dekat dengan pemikiran fiqh ahlurra’yi


2. Madzhab Syiah Imamiyah
Menurut Muhammad Yusuf Musa, fiqh Syiah Imamiyah lebih dekat dengan fiqh madzhab Syafi ‘i dengan beberapa perbedaan yang mendasar.
Dalam berijtihad, apabila mereka tidak menemukan hukum suatu kasus dalam Al-Qur’an, mereka merujuk pada sunnah yang diriwayatkan para imam mereka sendiri. Menurut mereka, yang juga dianut oleh madzhab Syiah Zaidiyah, pintu ijtihad tidak pernah tertutup. Berbeda dengan Syiah Zaidiyah, madzhab Syiah Imamiyah tidak menerima qiyas sebagai salah satu dalil dalam menetapkan hukum syara’. Alasannya, qiyas merupakan ijtihad dengan menggunakan rasio semata. Hal ini dapat dipahami, karena penentu hukum di kalangan mereka adalah imam, yang menurut keyakinan mereka terhindar dari kesalahan (maksum). Atas dasar keyakinan tersebut, mereka juga menolak ijma’ sebagai salah satu cara dalam menetapkan hukum syara’, kecuali ijma’ bersama imam mereka.
Kitab fiqh pertama yang disusun oleh imam mereka, Musa al-Kazim (128-183 H), diberi judul al-Halal wa al-Haram. Kemudian disusul oleh Fiqh ar-Righa yang disusun oleh Ali ar-Ridla (w. 203 H/ 818M).
Menurut Muhammad Yusuf Musa, pendiri sebenarnya fiqh Syiah adalah Abu Ja’far Muhammad bin Hasan bin Farwaij as-Saffar al-A’raj al-Qummi (w. 290 H.). Dasar pemikiran fiqh Syiah Imamiyah dapat dilihat dalam buku karangannya yang berjudul Basya’ir ad-Darajat fi ‘Ulum ‘Ali Muhammad wa ma Khassahum Allah bihi. Setelah itu madzhab Syiah Imamiyah disebarluaskan dan dikembangkan oleh Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini (w. 328 H.) melalui kitabnya, al-Kafi fi ‘ilm ad-Din.

Perbedaan mendasar fiqh Syiah Imamiyah dengan jumhur Ahlussunnah antara lain:

  1. Syiah Imamiyah menghalalkan nikah mut’ah yang diharamkan ahlus sunnah;
  2. Syiah Imamiyah mewajibkan kehadiran saksi dalam talak, yang menurut pandangan ahlus sunnah tidak perlu; dan
  3. Syiah Imamiyah, termasuk syiah Zaidiyah, mengharamkan lelaki muslim menikah dengan wanita Ahlulkitab.
Syiah Imamiyah sekarang banyak dianut oleh masyarakat Iran dan Irak. madzhab ini merupakan madzhab resmi pemerintah Republik Islam Iran sekarang.
madzhab fiqh yang Punah
Pengertian madzhab yang telah punah di sini menurut ulama fiqh adalah madzhab tersebut tidak memiliki tokoh dan pengikut yang fanatik, sekalipun ada sebagian pendapat madzhab tersebut dianut sebagian ulama atau masyarakat, hal tersebut hanya merupakan salah satu pendapat yang menjadi alternatif untuk menjawab kasus tertentu. Selain itu, madzhab tersebut dinyatakan punah karena pendapatnya tidak dibukukan sehingga tidak terpublikasikan secara luas, sehingga pengikutnya pun tidak ada.


Menurut Muhammad Yusuf Musa, madzhab-madzhab yang telah punah itu antara lain sebagai berikut:

1. madzhab al-Auza’i
Tokoh pemikirnya adalah Abdurrahman al-Auza’i (88-157 H.). Ia adalah seorang ulama fiqh terkemuka di Syam (Suriah) yang hidup sezaman dengan Imam Abu Hanifah. Ia dikenal sebagai salah seorang ulama besar Damascus yang menolak qiyas. Dalam salah satu riwayat ia berkata: “Apabila engkau menemukan sunnah Rasulullah SAW maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkanlah seluruh pendapat yang didasarkan kepada yang lainnya (selain Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW).”
madzhab al-Auza’i pernah dianut oleh masyarakat Suriah sampai madzhab Syafi’i menggantikannya. madzhab ini juga dianut masyarakat Andalusia, Spanyol, sebelum madzhab Maliki berkembang di sana. Pemikiran madzhab al-Auza’i saat ini hanya ditemukan dalam beberapa literatur fiqh (tidak dibukukan secara khusus). Pemikiran al-Auza’i dapat dilihat dalam kitab fiqh yang disusun oleh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari (w. 310 H./923 M.; mufasir dan faqih) yang berjudul Ikhtilaf al-Fuqaha, dan dalam kitab al-Umm yang disusun Imam asy-Syafi’i. Dalam al-Umm, asy-Syafi’i mengemukakan perdebatan antara Imam Abu Hanifah dan al-Auza’i, serta antara Imam Abu Yusuf dan al-Auza’i. Menurut Ali Hasan Abdul Qadir (ahli fiqh dari Mesir), madzhab al-Auza’i tidak dianut lagi oleh masyarakat sejak awal abad kedua Hijriyah.


2. madzhab as-Sauri
Tokoh pemikirnya adalah Sufyan as-Sauri (w. 161 H./778 M.). Ia juga sezaman dengan Imam Abu Hanifah dan termasuk salah seorang mujtahid ketika itu. Akan tetapi, pengikut as-Sauri tidak banyak. Ia juga tidak meninggalkan karya ilmiah. madzhab ini pun tidak dianut masyarakat lagi sejak wafatnya penerus madzhab as-Sauri, yaitu Abu Bakar Abdul Gaffar bin Abdurrahman ad-Dinawari pada tahun 406 H. Ia adalah seorang mufti dalam madzhab as-Sauri di Masjid al-Mansur, Baghdad.


3. madzhab al-Lais bin Sa’ad
Tokoh pemikirnya adalah al-Lais bin Sa’ad. Menurut Ali Hasan Abdul Qadir, madzhab ini telah punah dengan masuknya abad ke-3 H.
Fatwa hukum yang dikemukakan al-Lais yang sampai sekarang tidak bisa diterima oleh ulama madzhab adalah fatwanya tentang hukuman berpuasa berturut-turut selama dua bulan terhadap seorang pejabat di Andalusia yang melakukan hubungan suami istri di siang hari pada bulan Ramadlan.
Dalam fatwanya, al-Lais tidak menerapkan urutan hukuman yang ditetapkan Rasulullah SAW, dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh mayoritas rawi hadits dari Abu Hurairah. Dalam hadits itu dinyatakan bahwa hukuman orang yang melakukan hubungan suami istri di siang hari pada bulan Ramadlan adalah memerdekakan budak; kalau tidak mampu memerdekakan budak, maka diwajibkan berpuasa selama dua bulan berturut-turut; dan kalau tidak mampu juga berpuasa selama dua bulan berturut-turut, maka memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang. Al-Lais tidak menerapkan hukuman pertama (memerdekakan budak). Alasannya, seorang penguasa akan dengan mudah memerdekakan budak, sehingga fungsi hukuman sebagai tindakan preventif tidak tercapai. Demikian juga dengan memberi makan 60 orang fakir miskin bukanlah suatu yang sulit bagi seorang penguasa. Oleh sebab itu, al-Lais menetapkan hukuman berpuasa dua bulan berturut- turut bagi pejabat tersebut. Menurutnya, hukuman tersebut lebih besar kemaslahatannya dan dapat mencapai tujuan syara’. Jumhur ulama menganggap fatwa ini tidak sejalan dengan nash, karena nash menentukan bahwa hukuman pertama yang harus dijatuhkan pada pejabat tersebut semestinya adalah memerdekakan budak, bukan langsung kepada puasa dua bulan berturut-turut. Oleh sebab itu, landasan kemaslahatan yang dikemukakan al-Lais, menurut jumhur ulama adalah al-maslahah al-gharibah (kemaslahatan yang asing yang tidak didukung oleh nash, baik oleh nash khusus maupun oleh makna sejumlah nash).


4. madzhab ath-Thabari
Tokoh pemikirnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari atau Ibnu Jarir ath-Thabari (w. 310 H.). Menurut Ibnu Nadim (w. 385 H./995 M.; sejarawan), ath-Thabari merupakan ulama besar dan faqih di zamannva. Di samping seorang faqih, ia juga dikenal sebagai muhaddits dan mufassir. Kitabnya di bidang tafsir masih utuh sampai sekarang dan dipandang sebagai buku induk di bidang tafsir, yang dikenal dengan nama Jami’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an. Di bidang fiqh ath-Thabari juga menulis sebuah buku dengan judul Ikhtilaf al-Fuqaha.
Dalam bidang fiqh, ath-Thabari pernah belajar fiqh madzhab Syafi’i melalui ar-Rabi bin Sulaiman di Mesir, murid Imam asy-Syafi’i. Akan tetapi, tidak banyak ulama dan masyarakat yang mengikuti pemikiran fiqh ath-Thabari, sehingga sejak abad ke-4 H madzhab ini tidak mempunyai pengikut lagi.


5. Madzhab az-Zahiri
Tokoh pemikirnya adalah Daud az-Zahiri yang dijuluki Abu Sulaiman. Pemikiran madzhab ini dapat ditemui sampai sekarang melalui karya ilmiah Ibnu Hazm, yaitu kitab al-Ahkam fi Usul al-Ahkam di bidang usul fiqh dan al-Muhalla di bidang fiqh.
Sesuai dengan namanya, prinsip dasar madzhab ini adalah memahami nash (Al-Qur’ an dan sunnah Nabi SAW) secara literal, selama tidak ada dalil lain yang menunjukkan bahwa pengertian yang dimaksud dari suatu nash bukan makna literalnya. Apabila suatu masalah tidak dijumpai hukumnya dalam nash, maka mereka berpedoman pada ijma’. Ijma’ yang mereka terima adalah ijma’ seluruh ulama mujtahid pada suatu masa tertentu, sesuai dengan pengertian ijma’ yang dikemukakan ulama usul fiqh. Menurut Muhammad Yusuf Musa, pendapat az-Zahiri merupakan bahasa halus dalam menolak kehujahan ijma’, karena ijma’ seperti ini tidak mungkin terjadi seperti yang dikemukakan Imam asy-Syafi’i. Kemudian, mereka juga menolak qiyas, istihsan, al-maslahah al-mursalah dan metode istinbat lainnya yang didasarkan pada ra’yu (rasio semata):
Sekalipun para tokoh madzhab az-Zahiri banyak menulis buku di bidang fiqh, madzhab ini tidak utuh karena pengikut fanatiknya tidak banyak. Akan tetapi, dalam literatur-literatur fiqh, pendapat madzhab ini sering dinukilkan ulama fiqh sebagai perbandingan antar madzhab. madzhab ini pernah dianut oleh sebagian masyarakat Andalusia, Spanyol.
Dengan punahnya madzhab-madzhab kecil ini, maka madzhab fiqh yang utuh dan dianut masyarakat Islam di berbagai wilayah Islam sampai sekarang adalah madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi’i dan madzhab Hanbali, yang dalam fiqh disebut dengan al-Mazahib al-Arba’ah (madzhab yang Empat) atau al-Mazahib al-Qubra (madzhab-madzhab Besar)




Bab. Shalat 'Idain (Fiqih 5 Madzhab)

Para ulama berselisih pendapat tentang shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha, apakah hukumnya, wajib atau sunnah? Mazhab Imamiyah dan Hanafi mengatakan kedua shalat ‘led itu hukumnya fardhu ‘ain dengan syarat-syarat yang ada pada shalat Jum’at. Kalau syarat-syarat tersebut atau sebagian dari padanya tidak terpenuhi, maka menurut kedua rnazhab tersebut kewajiban tersebut menjadi gugur. Hanya Imamiyah menambahkan: Jika syarat-syarat wajib tidak terpenuhi, maka ia kerjakan sebagai shalat sunnah, baik secara berjama’ah maupun perorangan, dalam bepergian maupun mukim. Mazhab Hambali mengatakan: Hukumnya fardhu kifayah. Mazhab Syafi’i dan Maliki mengatakan: Hukumnya adalah sunnah muakkadah.Waktu shalat ‘led tersebut adalah sejak terbitnya matahari sampai tergelincirnya matahari (waktu zawal), demikian menurut mazhab Imamiyah dan Syafi’i.Sedangkan menurut Mazhab Hambali: Waktunya adalah sejak naiknya matahari setombak (sampai waktu zawal) Tentang khutbah pada shalat dua hari raya, Imamiyah mengata­kan kedua khutbah tersebut harus persis seperti khutbah Jum’at.

Se­dangkan mazhab-mazhab lainnya mengatakan khutbah itu hanya sunnah. Adapun tentang letak khutbah tersebut, semua sependapat bahwa waktunya adalah sesudah shalat, berbeda dengan khutbah Jum’at yang disampaikan sebelum shalat.Mazhab Imamiyah dan Syafi’i menyatakan: Shalat pada kedua hari raya itu sah dikerjakan, baik sendiri maupun berjama’ah. Sedang­kan mazhab-mazhab lainnya mewajibkan berjama’ah dalam shalat ‘led itu


Tata cara shalat ‘Ied itu, menurut mazhab-mazhab tersebut adalah dua raka’at, dengan ketentuan sebagai berikut

Hanafi: Niat, kemudian mengucapkan takbiratul ihram, kemudian mengucapkan puji takbir tiga kali yang diselingi dengan diam sejenak sekedar bacaan tiga kali takbir, atau juga boleh mengucapkan “Subhanallah walhamdulillah wala Ilaha illallah wallahuakbar”Kemudian membaca ‘Auzubillahi MinasyaithonirazimDan setelah itu membaca Al-Fatihah dan salah satu surat, lalu ruku’ dan sujud. Pada rakaat kedua, mulai dengan membaca Al-Fatihah dan salah satu surat, kemudian mengucapkan takbir tiga kali, kemudian ruku’ dan sujud, lalu menyempurnakan shalat hingga selesai.

Maliki: mengucapkan takbiratul ihram, dilanjutkan dengan ucapan takbir enam kali, lalu membaca surat: Al-fatihah dan Surat Al-A’la, lalu ruku’ dan sujud. Kemudian bangkit ke rakaat kedua sambil mengucapkan takbir, ditambah dengan lima takbir sesudahnya, lalu dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Syamsi atau yang sepertinya, kemudian menyempurnakan shalat hingga selesai.

Syafi’i: Mengucapkan takbiratul ihram, kemudian membaca doa iftitah, kemudian mengucapakan takbir tujuh kali yang antara tiap-tiap dua takbir itu diselingi ucapan: “Subhanallah walhamdulillah wala Ilaha illallah wallahuakbar”, secara perlahan. Kemudian mengucapkan: ‘Auzubillahi MinasyaithonirazimYang dilanjutkan dengan membaca Al-Fatihah dan surat Qaf. Kemudian ruku’ dan sujud. Ketika bangkit ke rakaat kedua, mengu­capkan takbir yang kemudian ditambah dengan lima kali takbir lagi, yang antara dua takbir diselingi dengan ucapan: “Subhanallah walhamdulillah wala Ilaha illallah wallahuakbar”Kemudian membaca Al-Fatihah dan surat Iqtarobat serta menyem­purnakan shalat hingga selesai.

Hambali: Membaca doa iftitah, kemudian mengucapakan takbir enam kali, yang antara tiap-tiap dua takbir itu mengucapkan:“Allahu Akbar kabira, walhamdulillahi kasira wasubhanallahi ibukratan wa asila, washalallahu ‘ala Muhammaddin wa ‘alihi wassalama tasliman”Kemudian membaca: ‘Auzubillahi Minasyaithonirazim dan basmalah, lalu diteruskan dengan membaca Al-Fatihah dan surat Al-A’la (hingga selesai). Kemudian menyempurnakan rakaat pertama hingga selesai dan diteruskan dengan rakaat kedua. Pada rakaat kedua mengucapkan takbir lima kali selain dari ucapan takbir untuk bangkit ke rakaat kedua. Yang antara dap-tiap dua takbir tersebut diselingi dengan ucapan yang sama dengan apa yang dibaca pada rakaat pertama tadi. Kemudian mengucapkan basmalah dite­ruskan dengan membaca Al-Fatihah dan surah Al-Ghasyiyah, kemudian ruku’ dan seterusnya hingga selesai shalat.

Imamiyah: Mengucapkan takbiratul ihram, lalu membaca surat Al-Fatihah dan salah satu surat, kemudian mengucapkan takbir lima kali yang pada tiap-tiap satu takbir diselingi dengan doa qunut. Ke­mudian ruku’ dan sujud. Ketika bangkit ke rakaat kedua, membaca Al-Fatihah dan salah satu surat, lalu mengucapkan takbir empat kali, yang diselingi dengan doa qunut pada tiap-tiap satu takbir. Kemu­dian ruku’, dan menyempurnakan shalat sampai selesai.



Bab. Shalat Jum'at (Fiqih 5 Madzhab)

a. Kewajiban Shalat Jum’at

Menurut ijma’ kaum Muslimin, shalat Jum’at hukumnya wajib berdasarkan Firman Allah di dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk shalat (mendengar adzan) pada hari Jum’at, maka hendaklah kamu segera mengingat Allah (shalat Jum’at) dan tinggalkanlah jual-beli” Juga berdasarkan pada hadis-hadis mutawatir, baik dari kalangan Sunnah maupun Syi’ah. Perbedaan pendapat mereka adalah dalam hal: Apakah syarat kewajiban shalat Jum’at itu berkaitan dengan adanya Sultan, atau wakilnya, atau ia wajib dalam segala keadaan? Hanafi dan Imamiyah mengatakan: Disyaratkan adanya Sul­tan atau walinya, dan menjadi gugur dengan ketiadaan salah seorang dari mereka. Selain dari itu, Imamiyah menambahkan syarat lainnya, yaitu keadilan Sultan, kalau tidak adil maka keberadaannya itu sama dengan ketiadaannya. Sedangkan Hanafi hanya mensyaratkan keberadaaan Sultan sekalipun tidak adil. Mazhab, Syafi’i, Malaki dan Hambali: Tidak menganggap perlu adanya Sultan. Dan kebanyakan ulama Imamiyah menyatakan, jika Sultan atau wakilnya tidak ada, tetapi ada faqih (ahli fiqh) yang adil, maka boleh dipilih antara mengerjakan shalat Dzuhur dan shalat Jum’at, walaupun lebih dianjurkan mengerjakan sha­lat Juma’at.


b. Syarat-Syarat Shalat Jum’at

Seluruh ulama sepakat bahwa syarat-syarat shalat Jum’at itu sama dengan syarat-syarat shalat lainnya, seperti bersuci, menutup aurat, menghadap Kiblat. Dan waktunya dari mulai tergelincirnya matahari sampai bayangan segala sesuatu sama panjangnya. Dan ia boleh didirikan di dalam masjid atau di tempat lainnya, kecuali mazhab Maliki mereka menyatakan bahwa shalat Jum’at itu tidak sah kecuali bila dikerjakan di dalam masjid. Dan seluruh ulama telah sepakat bahwa shalat Jum’at itu diwajibkan atas laki-laki saja, sedang wanita tidak. Dan bahwa orang yang sudah mengerjakan shalat Jum’at, maka menjadi gugurlah kewajiban shalat Dzuhur daripada. Dan bahwa shalat Jum’at itu tidak diwajibkan atas orang buta, dan tidak sah kecu­ali dengan berjama’ah. Dalam hal jumlah jama’ah shalat Jum’at ini terdapat perselisihan pendapat, Maliki: Sekurang-kurangnya 12 orang selain Imam. Imamiyah: Sekurang-kurangnya 4 orang selain Imam. Syafi’i dan Hambali: Sekuang-kurangnya 40 orang selain Imam. Hanafi: 5 orang, dan sebagian ulama mereka yang lain mengatakan 7 orang. Mereka sepakat tidak boleh bepergian pada hari Jumat bagi orang yang wajib mengerjakan shalat Jum’at dan telah cukup syarat-syaratnya, sesudah tergelincirnya matahari, sebelum ia selesai mengerjakan shalat Jum’at tersebut, kecuali mazhab Hanafi, mereka menyatakan boleh.


c. Dua Khutbah

Seluruh ulama sepakat bahwa dua khutbah itu termasuk syarat sahnya shalat Jum’at. Pelaksanaannya adalah sebelum shalat, sudah masuk waktunya bukan sebelumnya. Tetapi mereka berselisih pendapat dalam hal kewajiban berdiri ketika melakukan dua khutbah itu. Imamiyah, Syafi’i dan Maliki mengatakan: Wa­jib. Sedang Hanafi dan Hambali: Tidak wajib. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut: Hanafi: Khutbah itu terwujud dengan Sekurang-kurangnya dzikir yang memungkinkan, sehingga kalau dikatakan “Alhamdulillah” atau “Astaghfirullah”, maka sudah mencukupi. Akan tetapi yang demikian itu hukumnya makruh. Syafi’i: Kedua khutbah itu harus berisikan pujian kepada Allah (hamdalah), shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam, wasiat takwa dan pem-bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an sekurang-kurangnya pada salah satu dari kedua khutbah itu, namun lebih utama pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu pada khutbah yang pertama, serta doa untuk kaum Mukminin dalam khutbah kedua. Maliki: Semua yang dinamakan khutbah dalam urusan adat istiadat mencukupi untuk hal ini, asal mengandung peringatan kepada ketakwaan. Hambali: Harus ada hamdalah, shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan wasiat kepada ketakwaan. Imamiyah: Wajib ada di dalam kedua khutbah itu ucapan pujian dan sanjungan kepada Allah Ta’ala, shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam dan keluarganya, nasehat agama, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan pada khutbah kedua ditambah dengan istighfar dan doa un­tuk kaum Mukminin dan Mukminat. Selanjutnya mazhab Syafi’i dan Imamiyah menyatakan: Khatib wajib memisahkan antara kedua khutbah itu dengan duduk sejenak. Sedang mazhab Maliki dan Hanafi mengatakan bahwa hal itu tidak wajib, tetapi mustahab. Mazhab Hanafi mensyaratkan: Khutbah itu harus dikemukakan dengan bahasa Arab kalau mampu. Syafi’i mengatakan: Disyaratkan dengan bahasa Arab kalau pendengaran adalah orang-orang yang berbahasa Arab, tetapi kalau para pendengarnya itu orang-orang ajam, maka khatib harus menyampaikan khutbahnya dengan bahasa yang dimengerti mereka, walaupun ia dapat berbahasa Arab dengan baik. Maliki mengatakan: Khatib wajib menyampaikan khutbah dengan bahasa Arab, sekalipun jama’ahnya orang-orang ajam yang tidak mengerti bahasa Arab. Jika di antara kaum itu tidak ada yang mampu berbahasa Arab dengan baik, maka gugurlah kewajiban shalat jum’at dari mereka. Mazhab Hanafi serta Imamiyah mengemukakan bahwa bahasa Arab tidak disyaratkan dalam penyampaian khutbah Jum’at.


d. Tatacara Shalat Jum’at

Shalat Jum’at itu dua rakaat seperti shalat shubuh.Mazhab Imamiyah dan Syafi’i: Disunnahkan membaca surat Al-Jumu’ah pada rakaat pertama, dan surat Al-Munafiqun pada rakaat kedua, masing-masing sesudah membaca Al-Fatihah. Mazhab Maliki: Sunnah membaca Surat Al-jumu’ah pada rakaat pertama, dan Surat Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua. Dan mazhab Hanafi menyatakan: Makruh hukumnya menentukankan pembacaan surat secara khusus.



Bab. ragu dan lupa Dalam Shalat (Fiqih 5 Madzhab)

Para ulama dari seluruh mazhab sepakat bahwa orang yang meninggalkan salah satu kewajiban shalat dengan sengaja maka shalatnya menjadi batal. Dan kalau ia meninggalkannya karena lupa, ia harus menggantikannya dengan sujud sahwi, dengan cara-cara yang diterangkan berikut ini; Hanafi: sujud sahwi itu adalah dua kali sujud, membaca tasyahhud dan memberi salam, kemudian membaca shalawat atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam, serta membaca doa. Letak sujud sahwi menurut mazhab ini adalah sesudah salam, dengan syarat waktunya masih luas. Apabila seseorang lupa sesuatu kewajiban shalat dalam shalat Shubuh misalnya, kemudian matahari terbit sebelum ia melakukan sujud sahwi maka manjadi gugurlah keharusannya melakukan sujud sahwi itu. Adapun sebab-sebab sujud sahwi itu adalah apabila orang meninggalkan kewajiban shalat, atau menambahkan rukun shalat seperti ruku’ dan sujud. Jika ia lupa berkali-kali, maka cukup baginya dua kali sujud saja, sebab mengulangi sujud sahwi itu tidak digariskan dalam mazhab mereka. Dan kalau seseorang lupa dalam sujud sahwi-nya, maka tidak ada sujud sahwi baginya. Demikian disebutkan dalam kitab Majma’ul Anhar, Jilid I, bab sujud sahwi

Maliki: Sujud sahwi itu jumlahnya dua kali sujud, yang diakhiri dengan pembacaan tasyahhud tanpa doa dan shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam. Adapun letak sujud sahwi menurut mazhab Maliki harus diperhatikan, jika karena kekurangan saja atau karena kekurangan dan kelebihan bersamaan, maka letaknya adalah sebelum salam. Dan kalau karena kelebihan saja, maka letaknya sesudah salam. Juga harus diperhatikan sebab-sebab yang mengharuskan sujud sahwi itu. Jika kelupaan ilu dalam hal kekurangan dan yang ditinggalkan itu sunnah mustahabbah, maka harus dilakukah sujud sahwi. Dan jika yang ditinggalkan itu adalah salah satu dari kewajiban shalat, maka tidak dapat digantikan dengan sujud sahwi, tetapi harus dikerjakan kewajiban yang sama. Dan jika lupanya itu karena lebih mengerjakan sesuatu rukun shalat, misalnya menambah satu atau dua ruku’, atau menambah satu atau dua rakaat, maka itu boleh diganti dengan sujud sahwi.

Hambali: Sujud sahwi boleh dilakukan sebelum dan sesudah salam. Jumlahnya dua kali sujud dengan diakhiri tasyahhud dan salam. Sebab dilakukannya sujud sahwi itu, menurut mazhab Hambali, ada­lah karena kelebihan, kekurangan atau keraguan. Yang dimaksud dengan kelebihan di sini adalah seperti kalau orang menambah qiyam (tegak) atau qu’ud (duduk). Orang yang duduk, padahal seharusnya ia berdiri, atau ia berdiri padahal seharusnya ia duduk, maka ia harus melakukan sujud sahwi. Adapun dalam hal kekurangan, maka ia mempunyai amliah (tata-cara) tersendiri dalam mazhab mereka. Yaitu, jika seseorang ingat bahwa ia telah lupa melakukan salah satu rukun atau kewajibkan shalat sebelum ia memulai pembacaan Al-F’atihah pada rakaat berikutnya maka ia harus mengulang apa yang ia lupakan tersebut dan kemudian melakukan sujud sahwi. Tetapi kalau ia tidak ingat hingga ia selesai membaca Al-Fatihah pada rakaat berikutnya, maka rakaat ini dianggap menggantikan rakaat sebelumnya yang digugurkan, kemudian sujud sahwi. Sebagai contoh: Seseorang lupa tidak ruku’ pada rakaat pertama dan setelah sujud baru diingatnya. Dalam kasus ini, ia harus ruku’ baru kemudian mengulang sujud. Tetapi jika ia baru ingat sesudah masuk ke rakaat kedua dan telah membaca Al-Fatihah, maka rakaat pertama tadi dianggap gugur, dan rakaat kedua ini menjadi rakaat pertama. Sedangkan keraguan yang mengharuskan sujud sahwi itu contohnya adalah sebagai berikut: Seseorang merasa ragu-ragu dalam meninggalkan ruku’ atau jumlah rakaat, maka dalam kasus ini, ia harus menetapkan atas dasar yang lebih meyakinkan dan kemudian melakukan apa yang diragukannya. Sesudah selesai shalat dengan sempurna, barulah ia melakukan sujud sahwi. Cukup dua kali sujud saja untuk semua kelupaan, walaupun yang menyebabkannya berbilang. Sebab menurut mereka, tidak ada sujud sahwi karena banyak lupa. Maksudnya, cukup satu sujud sahwi saja untuk lupa yang banyak.

Syafi’i: Waktu sujud sahwi adalah sesudah tasyahhud dan Shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam dan sebelum salam. Adapun sifatnya adalah sama seperti mazhab-mazhab terdahulu. Sedangkan sebabnya adalah karena meninggalkan sunnah muakkadah, atau menambah sedikit perkataan, atau menambah bacaan Al-Fatihah karena lupa, atau karena mengikuti orang yang dalam shalatnya ada kekurangan, atau karena ragu-ragu dalam jumlah rakaat, atau meninggalkan bagian tertentu.

Imamiyah: Dalam hal ini, Imamiyah telah membedakan antara hukum ragu-ragu dan hukum alpa itu. Mereka mengatakan: Keragu-raguan dalam af’al shalat tidaklah diperhatikan jika terjadi setelah selesai mengerjakan shalat, juga terhadap keraguan Makmum dalam jumlah rakaat dengan keyakinan Imam, dan keraguan Imam dengan keyakinan Makmum, itu semua dikembalikan kepada apa yang di-ingat oleh yang lain. Dan tidak pula diperhatikan keraguan yang baik, dan keraguan dalam salah satu af’al shalat setelah masuk ke­pada af’al lainnya yang berurutan dengannya. Apabila seseorang ragu-ragu dalam hal pembacaan Al-Fatihah, sedang ia sudah mulai membaca surat; atau ragu-ragu dalam hal pembacaan surat, sedang ia telah ruku’, atau ragu-ragu dalam ruku’ sedang ia telah sujud, maka dalam semua kasus ini ia harus meneruskan shalatnya dan tidak perlu memperhatikannya. Adapun jika ia ragu-ragu sebelum masuk af’al (perbuatan) berikutnya, maka wajib atasnya melakukan apa yang ia ragukan itu. Orang yang ragu-ragu, apakah sudah membaca surat Al-Fatihah atau belum, dan itu diingatnya sebelum ia memulai membaca surat, maka dalam hal ini ia harus membaca Al-Fatihah. Begitu juga kalau ia lupa membaca surat sebelum ruku’, maka ia harus membacanya. Sedangkan sujud sahwi itu dilakukan untuk semua kelebihan dan kekurangan selain dari membaca dengan suara keras (jahar) dikala seharusnya membaca pelan (ikhfat), atau membaca dengan pelan ketika seharusnya membaca dengan keras, maka keduanya ini tidak diharuskan sujud sahwi Begitulah juga rukun shalat, karena kele­bihan atau kekurangan dalam rukun itu membatalkan shalat, baik karena lupa maupun sengaja. Adapun rukun shalat menurut mereka ada lima: Niat, takbiratul ihram, qiyam (berdiri), ruku’, kedua sujud dalam satu rakaat. Semua bagian shalat yang tinggal karena lupa, tidak wajib diperbaiki sesudah shalat kecuali sujud dan tasyahhud. Yang mana keduanya itu wajib di-qadha’ (diulang) dan dilaksanakan sesudah shalat dan kemudian melakukan sujud sahwi. Sifat sujud sahwi menurut mereka adalah dua kali sujud, dan dalam sujud itu mambaca: “Bismillahi wa Billahi, Allahuma Shalli ala Muhammadin wa Ali Muhammadin.” Kemudian membaca tasyahhud dan memberi salam. Sujud sahwi wajib dilakukan beberapa kali dengan beberapa sebab yang mengharuskannya. Dan bagi orang yang pelupa, tidak wajib melakukan sujud sahwi, begitu juga orang yang lupa dalam sujud sahwinya.


Ragu Tentang Jumlah Rakaat

Syafi’i, Maliki dan Hambali: Apabila seseorang merasa ragu-ragu dalam jumlah rakaat yang dikerjakannya, ia tidak tahu sudah berapa rakaat yang dikerjakan, maka hendaklah ditetapkannya atas dasar yang lebih meyakinkan, yaitu yang jumlahnya paling sedikit, kemudian menyempurnakan shalat dengan sisa rakaat yang belum di­kerjakan.

Hanafi: Jika keraguannya dalam shalat itu merupakan yang pertama kali dalam hidupnya, maka ia harus mengulangi shalat itu dari permulaan. Dan kalau sebelumnya ia pernah ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah direnungkannya sejenak, dan kemudian melakukan menurut persangkaannya yang lebih kuat. Jika masih tetap ragu-ragu, maka ia harus menetapkan atas jumlah yang lebih sedikit, karena yang demikian lebih meyakinkan.

Imamiyah: Jika keragu-raguan itu timbul pada shalat-shalat yang jumlahnya dua rakaat, seperti shalat Shubuh, shalat Musafir, shalat Jum’at, shalat ‘Idain (dua hari raya), shalat Gerhana, atau pada sha­lat Maghrib, atau pada dua rakaat pertama pada shalat-shalat yang jumlahnya empat rakaat, yaitu Isya’, Dzuhur dan Ashar, maka shalatnya menjadi batal dan harus diulang dari permulaan. Namun kalau ke­ragu-raguan itu timbul pada dua rakaat terakhir pada shalat ruba’iyah (yang jumlahnya empat rakaat), maka hendaklah dikerjakan shalat ihtiyath setelah menyelesaikan shalat dan sebelum melakukan hal-hal lain. Contoh: Seseorang merasa ragu-ragu antara dua rakaat dan tiga rakaat, sesudah menyelesaikan dua sujud, maka ia harus menetapkan atas jumlah yang lebih banyak, dan menyempurnakan shalat, kemu­dian shalat ihtiyath dua rakaat sambil duduk, atau satu rakaat sambil berdiri. Jika ia ragu-ragu antara tiga rakaat dan empat rakaat, maka ia harus menetapkan empat rakaat, lalu ia sempurnakan shalatnya, kemudian mengerjakan shalat ihtiyaih satu rakaat sambil berdiri, atau dua rakaat sambil duduk. Jika ia ragu-ragu antara dua rakaat dan empat rakaat, maka hendaklah ditetapkannya empat rakaat, kemu­dian ia kerjakan shalat ihtiyath dua rakaat sambil berdiri. Dan jika ragu-ragu antara dua rakaat, tiga rakaat dan empat rakaat, maka hendaklah ditetapkannya empat rakaat, kemudian ia kerjakan shalat ihtiyath dua rakaat sambil berdiri dan dua rakaat sambil duduk. Mereka memberi alasan untuk menjaga hakekat shalat dan menghindarkan penambahan dan pengurangan dalam shalat. Jelasnya adalah seperti yang disebutkan dalam contoh berikut: Orang yang merasa ragu-ragu antara tiga rakaat dan empat rakaat, lalu ia me-netapkannya empat rakaat, setelah itu ia mengerjakan satu rakaat terpisah setelah selesai shalat. Seandainya shalat yang sudah dikerjakannya itu sempurna, maka satu rakaat terpisah yang ia kerjakan tadi dianggap sebagai nafilah (shalat sunnah). Dan jika memang shalatnya kurang satu rakaat, maka rakaat terpisah tadi adalah sebagai pelengkapnya. Bagaimanapun, shalat ihtiyath dengan cara demikian ini hanya terdapat dalam mazhab Imamiyah. Tata cara shalat ihtiyath seperti yang dijelaskan di atas, pada mazhab Imamiyah hanya terbatas pada shalat-shalat fardhu saja terutama pada shalat Dzuhur, Ashar dan Isya’. Sedangkan untuk shalat-shalat sunnah, orang boleh memilih menetapkan antara yang lebih sedikit atau yang lebih banyak, kecuali bila merusak shalat, seperti kalau orang yang ragu-ragu apakah ia sudah mengerjakan shalat dua rakaat atau tiga rakaat, padahal diketahuinya bahwa shalat sunnah itu hanya dua rakaat, maka dalam hal ini ia harus menetapkan pada yang lebih sedikit. Memang, yang lebih utama adalah menetapkan pada bilangan yang lebih kecil secara mutlak pada shalat-shalat sunnah. Dan kalau ia merasa ragu-ragu dalam shalat ihtiyath, maka hendaklah ditetapkannya pada yang lebih banyak, kecuali kalau yang lebih banyak itii bisa membatalkan, maka dalam hal ini harus menetapkan pada jumlah rakaat yang lebih sedikit. Sebagian ulama Imamiyah mengatakan hendaknya dipilih antara menetapkan jumlah rakaat yang lebih sedikit dan yang lebih banyak.



Bab. Fardhu-fardhu Shalat dan Rukun-rukunnya (Fiqih 5 Madzhab)

Sahnya shalat itu meliputi: Harus suci dari hadas dan kotoran, masuk waktu, menghadap Kiblat, dan harus memakai pakaian penutup aurat. Hal-hal di atas harus dipenuhi semuanya sebelum melaksanakan shalat, dan hal-hal itu dinamakan syarat, serta pembahasan masalah tersebut telah dijelaskan secara rinci sebelumnya. Shalat itu juga terdiri dari beberapa fardhu dan beberapa rukun yang harus dilaksanakan langsung ketika shalat. Rukun-rukun dan fardhu-fardhu itu sangat banyak, yaitu:

Niat

Ulama mazhab berbeda pendapat, bahkan para ahli fiqih dalam satu rnazhab juga berbeda antara yang satu dengan yang lain, yaitu tentang apakah orang yang shalat itu wajib berniat, apakah ia wajib menyatakan, yang mana ia berniat, misalnya shalat Dzuhur atau shalat Ashar, shalat fardhu atau sunnah, shalat sempurna atau shalat qashar (pendek), dan shalat ada’an atau shalat qadha’ dan seterusnya. Hakekatnya niat sebagaimana telah kami jelaskan dalam bab wudhu, bahwa niat itu adalah tujuan dari suatu perbuatan yang didorong oleh rasa taat dan patuh mengikuti perintah-perintah Allah. Sedangkan apakah niat itu dinyatakan apakah untuk shalat fardhu atau sunnah, apakah untuk shalat ada’an atau qadha’, maka orang yang shalat itu sesuai dengan yang diniatkannya. Bila berniat shalat sunnah sejak memulai dan melaksanakannya, maka ia berarti telah melakukan shalat sunnah. Bila berniat shalat far­dhu Dzuhur atau Ashar dan ia melaksanakannya, maka berarti ia telah melaksanakannya. Tapi bila tidak berniat apa-apa, maka berarti ia telah melakukannya dengan sia-sia. Namun tidak mungkin, bahkan mustahil ia tidak berniat, karena setiap perbuatan yang keluar dari orang yang berakal, dalam keadaan apapun tidak terpisah dari niat, baik dinyatakan (diungkapkan) dengan kata-kata tertentu, atau tidak. Dari itu semua ulama mazhab sepakat bahwa mengungkapkan dengan kata-kata tidaklah diminta. Sebagaimana mustahil juga secara kebiasaan seseorang berniat melakukan shalat Dzuhur tetapi ia melakukan shalat Ashar, dan berniat melakukan shalat fardhu tetapi ia melakukan shalat sunnah, padahal ia tahu dan dapat membedakan antara dua shalat tersebut. Tapi bagaimanapun juga, pembahasan tentang niat dan bagian-bagiannya ini tidak penah dikenal dalam masyarakat dahulu, yaitu yang berasaskan agama dan syariat. Dan alangkah baiknya, kalau kami menukil komentar dua orang ulama besar. Pertama, dari kalangan Sunni, yaitu Ibnul Qayyim. Kedua, dari kalangan Imamiyah (Syi’i), yaitu Sayyid Muhammad, pengarang buku Al-Madarik.

Ibnul Qayyim berpendapat dalam bukunya Zadul Ma ‘ad, sebagaimana yang dijelaskan dalam jilid pertama dari buku Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, sebagai berikut: Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam kalau menegakkan shalat, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam langsung mengucapkan “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) dan beliau tiak mengucapkan apa-apa sebelumnya, dan tidak melafalkan niat sama sekali, dan tidak pula mengucapkan “Ushali kadza mustaqbilal Kiblati arba ‘a raka’atin imaman aumakuman” (Saya shalat ini atau itu dengan menghadap kiblat empat rakaat sebagai Imam atau Makmum), dan tidak pula berkata “ada-an” (melaksanakan) dan tidak pula “qadha’an” (mengganti), dan tidak pula “fardhol wakti” (shalat fardhu pada waktu ini). Ini semuanya merupakan bagian dari sepuluh perbuatan bid’ah, karena tidak ada nash shahih yang menceritakan dengan sanad yang shahih, dan tidak pula dengan sanad dha’if (lemah), dan tiak pula dengan sanad hasan, dari salah seorang tabi’in, dan tidak pula dari para Imam empat mazhab. Sayyid Muhammad dalam bukunya Madarikul Ahkam tentang mabhatsu al-niyya awwalu as-shalati”. (Pembahasan tentang niat sebagai perbuatan pertama dalam shalat), berkata: Kesimpulan yang ditarik dari dalil-dalil syam’ adalah kemudahan untuk mengucapkan niat untuk melakukan perbuatan tertentu dalam rangka mematuhi perintah-perintah Allah. Masalah ini tidak terpisah dari orang yang berakal yang mempunyai tujuan untuk melaksanakan ibadah. Dari dasar inilah sebagian orang yang mempunyai kelebihan berkata: Seandainya Allah membebani seseorang dengan shalat atau ibadah-ibadah lainnya tanpa niat, maka ini merupakan beban yang tidak mampu dilaksanakan. Syahid menjelaskan dalam buku Al-Dzikra bahwa para ulama terdahulu tidak pernah menjelaskan tentang niat dalam buku fiqh mereka, bahkan mereka berkata: Rukun wudhu yang pertama ialah membasuh muka, dan rukun shalat yang pertama adalah takbiratui ihram. Seakan-akan wajahnya merupakan kadar bagi orang yang mengungkapkan niatnya dari masalah yang ia kerjakan, karena ia tidak mungkin berpisah dari yang dilakukannya, dan selebihnya bukanlah wajib. Keterangan yang memperkuat penjelasan tentang hal ini, adalah tidak dijelaskannya dalam beberapa ibadah secara khusus, serta beberapa hadis menjelaskan tentang bagiamana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam berwudhu, mandi dan bertayammum, di mana pada dasarnya tidak ada yang menjelaskan tentang niat ini.


Takbiratul Ihram Shalat tidak akan sempurna tanpa takbiratul ihram.

Nama tak­biratul ihram ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam : “Kunci shalat adalah bersuci, dan yang mengharamkannya (dari perbuatan sesuatu selain perbuatan-perbuatan shalat) adalah takbir, dan penghalalnya adalah salam”. Yang dimaksud diharamkan adalah berbicara dan semua yang tidak berhubungan dengan shalat. Sedangkan yang dimaksud menghalalkannya adalah bahwa orang yang shalat itu diperbolehkan melakukan apa-apa yang diharamkan setelah takbir. Kalimat takbiratul ihram adalah “Allah Akbar” (Allah Maha Besar) tidak boleh memakai kata-kata lainnya menurut Imamiyah, Maliki dan Hambali. Syafi’i: Boleh mengganti “Allahu Akbar” dengan “Allahu Al-Akbar”, ditambah dengan alif dan lam pada kata “Akbar”. Hanafi: Boleh dengan kata-kata lain yang sesuai atau sama artinya dengan kata-kata tersebut, seperti “Allah Al-A’dzam” dan “Allahu Al-Ajall” (Allah Yang Maha Agung dan Allah Yang Maha Mulia).

Semua ulama mazhab sepakat selain Hanafi bahwa mengucapkannya dalam bahasa Arab adalah wajib, walaupun orang yang shalat itu adalah orang ajam (bukan orang Arab). Bila ia tidak bisa maka ia wajib mempelajarinya. Bila tidak bisa belajar, ia wajib menerjemahkan ke dalam bahasanya. Hanafi: Sah mengucapkannya dengan bahasa apa saja, walau yang bersangkutan bisa berbahasa Arab. Semua ulama mazhab sepakat: Syarat takbiratul ihram adalah semua yang disyaratkan dalam shalat, seperti suci dari hadas, baik hadas kecil maupun besar, menghadap Kiblat, menutup aurat dan seterusnya. Kalau bisa melakukannya dengan berdiri; dan dalam mengucapkan kata “Allahu Akbar” itu harus didengar sendiri, baik terdengar secara keras oleh dirinya, atau dengan perkiraan jika ia tuli. Juga harus mendahulukan lafdzul Jalalah “Allah” dari pada kata “Akbar”, dan kalau dibalik menjadi “Akbar Allah”, tidak diperbolehkan.

Semua ulama mazhab sepakat bahwa berdiri dalam shalat fardhu itu wajib sejak mulai dari takbiratul ihram sampai ruku’, harus tegap, bila tidak mampu ia harus shalat dengan duduk. Bila tidak mampu duduk, ia harus shalat miring pada bagian kanan, seperti letak orang yang meninggal di liang lahat, menghadapi Kiblat dihadapan badannya menurut kesepakatan semua ulama maz­hab selain Hanafi. Hanafi berpendapat: Siapa yang tidak bisa duduk, ia harus shalat terlentang dan menghadap Kiblat dengan dua kakinya sehingga isyaratnya dalam ruku’. dan sujud tetap menghadap Kiblat. Dan bila tidak mampu miring ke kanan, maka menurut Imamiyah, Syafi’i dan Hambali ia harus shalat terlentang dan kepalanya menghadap ke Kiblat. Bila tidak mampu juga, ia harus mengisyaratkan dengan kepalanya atau dengan kelopak matanya. Hanafi: Bila sampai pada tingkat ini tetapi tidak mampu, ma­ka gugurlah perintah shalat baginya, hanya ia harus melaksanakannya (meng-qadha’-nya) bila telah sembuh dan hilang sesuatu yang menghalanginya. Maliki: Bila sampai seperti ini, maka gugur perintah shalat terhadapnya, dan tidak diwajibkan meng-qadha nya. Imamiyah, Syafi’i dan Hambali: Shalat itu tidaklah gugur da­lam keadaan apapun. Maka bila tidak mampu mengisyaratkan dengan kelopak matanya (kedipan mata), maka ia harus shalat dengan hatinya dan menggerakkan lisannya dengan dzikir dan membacanya. Bila juga tidak mampu untuk menggerakan lisan­nya. maka la harus menggambarkan tentang melakukan shalat di dalam hatinya selama akalnya masih berfungsi. Ringkasnya bahwa shalat itu wajib bagi orang yang mampu dan orang yang tidak mampu serta tidak boleh ditinggalkan da­lam keadaan apapun. la harus dilaksanakan oleh setiap orang mukallaf dengan kadar kemampuannya. Bila tidak bisa berdiri, harus shalat duduk, bila tidak bisa duduk, ia harus shalat ter-lentang sambil miring ke kanan. Bila tidak bias juga, ia harus shalat terlentang saja, atau dengan kedipan matanya, atau bila juga tidak bisa, harus dengan hatinya saja dan ingatannya. Orang yang mampu dan yang lemah (tidak mampu) ia harus berubah dari satu keadaan pada keadaan lainnya asal ia dapat melaksanakannya (shalat). Bila tidak mampu berdiri ketika sha­lat berdiri, maka ketika itu pula (sedang berdiri itu) ia harus shalat dengan duduk. Begitu juga sebaliknya, bagi orang yang shalat duduk, lalu datang kemampuannya untuk shalat berdiri, maka ia harus shalat berdiri ketika sedang shalat itu juga, dan seterusnya. Kalau shalat pada raka’at pertama ia berdiri lalu pada raka’at selanjutnya ia tidak mampu, maka ia harus meneruskannya dengan duduk. Bila mampu shalat duduk tapi ketika di pertengahan shalat datang halangan yang menyebabkan tidak mampu duduk, ia harus shalat dengan semampunya sampai selesai. Begitu juga sebaliknya, bila shalat duduk, lalu dipertengahan shalat datang kemampuannya untuk berdiri, ia harus shalat berdiri sampai selesai.


Bacaan

Ulama mazhab berbeda pendapat, apakah membaca Al-Fatihah itu diwajibkan pada setiap rakaat, atau pada setiap dua rakaat pertama saja, atau diwajibkan secara aini (yang harus pada setiap orang) pada semua rakaat? Apakah basmalah itu merupakan bagian yang harus dibaca atau boleh ditinggalkannya? Apakah semua bacaan yang dibaca dengan nyaring atau lemah pada tempatnya adalah wajib atau sunnah? Apakah wajib membaca surat Al-Qur’an setelah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama atau tidak? Apakah membaca tasbih (Subhanallah) dapat mengganti kedudukan surat? Apakah menyilangkan dua tangannya itu disunnahkan atau diharamkan? dan seterusnya. Hanafi: Membaca Al-Fatihah dalam shalat fardhu tidak diharuskan, dan membaca bacaan apa saja dari Al-Qur’an itu boleh, berdasarkan Al-Qur’an surat Muzammil ayat 20: “Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al Qur’an”, (Bidayahtul Mujtahid, Jilid I, halaman 122, dan Mizanul Sya’rani, dalam bab shifatus shalah). Membaca Al-Fatihah itu hanya diwajibkan pada dua rakaat pertama, sedangkan pada rakaat ketiga pada shalat Maghrib, dan dua rakaat terakhir pada shalat Isya’ dan Ashar kalau mau bacalah, bila tidak, bacalah tasbih, atau diam. (Al-Nawawi, Syarhul Muhadzdzab, Jilid III, halaman 361).

Boleh meninggalkan basmalah, karena ia tidak termasuk bagian dari surat. Dan tidak disunnahkan membacanya dengan keras atau pelan. Orang yang shalat sendiri ia boleh memilih, apakah mau didengar sendiri (membaca dengan perlahan) atau mau didengar oleh orang lain (membaca dengan keras), dan bila suka membaca secara sembunyi-sembunyi, bacalah dengannya. Dalam shalat itu tidak ada qunut kecuali pada shalat witir. Se­dangkan menyilangkan dua tangannya adalah sunnah bukan wajib. Bagi orang lelaki adalah lebih utama bila meletakkan telapak tangannya yang kanan di alas belakang telapak tangan yang kiri di bawah pusarnya, sedangkan bagi wanita yang lebih utama ada­lah meletakkan dua tangannya di atas dadanya. Syafi’i: Membaca Al-Fatihah itu adalah wajib pada setiap ra­kaat tidak ada bedanya, baik pada dua rakaat pertama maupun pada dua rakaat terakhir, baik pada shalat fardhu maupun shalat sunnah.

Basmalah itu merupakan bagian dari surat, yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun. Dan harus dibaca dengan suara keras pada shalat Shubuh dan dua rakaat yang pertama pada shalat Maghrib dan Isya’, selain rakaat tersebut harus dibaca dengan pelan. Pada shalat Shubuh disunnahkan membaca qunut setelah mengangkat kepalanya dari ruku’ pada rakaat, kedua sebagaimana juga disunnahkan membaca surat Al-Qur’an setelah membaca Al-Fatihah pada dua rakaat yang per­tama saja. Sedangkan menyilangkan dua tangannya bukanlah wajib, hanya disunnahkan bagi lelaki dan wanita. Dan yang pa­ling utama adalah meletakkan telapak tangannya yang kanan di belakang telapak tangannya yang kiri di bawah dadanya tapi di atas pusar dan agak miring ke kiri. Maliki: Membaca Al-Fatihah itu harus pada setiap rakaat, tak ada bedanya, baik pada rakaat-rakaat pertama maupun pada ra-kaat-rakaat terakhir, baik pada shalat fardhu maupun shalat sunnah, sebagaimana pendapat Syafi’i, dan disunnahkan membaca surat Al-Qur’an setelah Al-Fatihah pada dua rakaat yang pertama. Basmalah bukan termasuk bagian dari surat, bahkan disunnahkan untuk ditinggalkan. Disunnahkan menyaringkan bacaan pada shalat Shubuh dan dua rakaat pertama pada shalat Maghrib dan Isya’, serta qunut pada shalat Shubuh saja. Sedangkan menyilangkan dua tangan adalah boleh, tetapi disunnahkan untuk mengulurkan dua tangannya pada shalat fardhu. Hambali: Wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, dan sesudahnya disunnahkan membaca surat Al-Qur’an pada dua rakaat yang pertama. Dan pada shalat Shubuh, serta dua rakaat pertama pada shalat Maghrib dan Isya’ disunnahkan membacanya dengan nyaring.

Basmalah merupakan bagian dari surat, tetapi cara membacanya harus dengan pelan-pelan dan tidak boleh dengan keras. Qunut hanya pada shalat witir bukan pada shalat-shalat lainnya. Sedangkan menyilangkan dua tangannya disunnahkan bagi lelaki dan wanita, hanya yang paling utama adalah meletakkan telapak tangannya yang kanan pada belakang telapak tangannya yang kiri, dan meletakkan di bawah pusar. Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa menyilangkan dua tangan yang diungkapkan oleh para ahli fiqh Sunni adalah dengan memegang, sedangkan menurut pada ahli fiqh Syi’ah adalah dengan melepaskan, di mana dalam empat mazhab tidak diwajibkan untuk melepaskannya. Imamiyah: Membaca Al-Fatihah hanya diwajibkan pada dua rakaat pertama pada setiap shalat, dan tidak cukup (boleh) pada rakaat yang lain. Dan tidak wajib pada raka’at ketiga pada shalat Maghrib, dan dua rakaat terakhir pada shalat yang empat rakaat, bahkan boleh memilih antara membacanya atau menggantinya dengan tasbih, dan orang yang shalat itu cukup dengan mengucapkan: “Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar”, sebanyak tiga kali, tapi memadai dengan satu kali saja. Dan wajib membaca satu surat secara lengkap pada dua rakaat pertama.

Basmalah merupakan bagian dari surat yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun.

Pada shalat Shubuh wajib membacanya dengan nyaring, tapi dzikir-dzikir yang lain tidak boleh dibaca dengan nyaring, juga dua rakaat pertama pada shalat Maghrib dan shalat Isya’ wajib dinyaringkan. Sedangkan pada dua shalat Dzuhur (Dzuhur dan Ashar) Harus dipelankan selain basmalah. Membaca basmalah dengan nyaring adalah disunnahkan pada dua rakaat pertama dari kedua shalat (Dzuhur dan Ashar) tersebut juga pada rakaat ketiga pada shalat Maghrib dan dua rakaat terakhir dari shalat Isya’. Disunnahkan ber-qunut pada semua shalat fardhu, yaitu pada rakaat kedua setelah membaca surat Al-Qur’an sebelum ruku’. Sekurang-kurangnya menyaringkan bacaan adalah didengar oleh orang yang paling dekat dengannya dan paling pelannya adalah didengar oleh dirinya sendiri. Sedangkan bagi wanita tidak boleh menyaringkan bacaannya, menurut kesepakatan semua ulama mazhab, namun tidak boleh terlalu pelan sehingga tidak bisa didengar oleh dirinya sendiri. Kalau orang yang shalat itu secara sengaja menyaringkan bacaan yang seharusnya dipelankan, atau sebaliknya, maka shalatnya batal, tapi kalau melakukannya karena tidak tahu atau lupa, maka sha­latnya sah. Imamiyah: Juga mengharamkan mengucapkan amin, dan ba­tal shalatnya kalau mengucapkannya, baik ketika shalat sendiri, menjadi Imam atau Makmum, karena hal itu termasuk pembicaraan manusia, sedang dalam shalat tidak dibenarkan meng­ucapkan kata yang merupakan pembicaraan manusia (yakni, kata amin merupakan kata yang hanya dipakai dalam masyarakat, bukan merupakan kata dari Al-Qur’an pent.) Namun empat mazhab menyatakan, bahwa membaca amin adalah sunnah, ber-dasarkan hadis Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam bersabda: “Kalau ingin mengucapkan Ghairil maghdzubi ‘alaihim waladz-dzaallin, maka kalian harus mengucapkan amin”. Imamiyah menentang ke-shahih-a.n (Validitas) hadis tersebut. Kebanyakan Imamiyah menyatakan (berpendapat) bahwa menyilangkan dua tangan dalam shalat dapat membatalkan shalat, karena tidak ada ketetapan dari nash. Sebagian berpendapat Imamiyah bahwa menyilangkan tangan adalah haram, maka siapa yang melakukan­nya adalah berdosa, tetapi tidak sampai membatalkan shalat. Pendapat ketiga dari Imamiyah: Hanya makruh saja, bukan haram.


Ruku’

Semua ulama mazhab sepakat bahwa ruku’ adalah wajib di dalam shalat. Namun mereka berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya ber-thuma ‘ninah di dalam ruku’, yakni ketika ruku’ semua anggota badan harus diam, tidak bergerak. Hanafi: Yang diwajibkan hanya semata-mata nnembungkukkan badan dengan lurus, dan tidak wajib thuma’ninah.

Mazhab-mazhab yang lain: Wajib membungkuk sampai dua telapak tangan orang yang shalat ilu berada pada dua lututnya dan juga diwajibkan ber tuma’ninah dan diam (tidak bergerak) ketika ruku’. Syafi’i, Hanafi dan Maliki: Tidak wajib berdzikir ketika shalat, hanya disunnahkan saja mengucapkan: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung”. Imamiyah dan Hambali: Membaca tasbih ketika ruku’ adalah wajib. Kalimatnya menurut Hambali: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung”. Sedangkan menurut Imamiyah: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan Segala Puji bagi-Nya”, atau mengucapkan: “Maha Suci Allah”, Sedangkan tiga kali, lalu di ditambahkan shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam dan keluarganya setelah bertasbih. Hanafi: Tidak wajib mengangkat kepala dari ruku’ yakni i’tidal (dalam keadaan berdiri). Dibolehkan untuk langsung sujud, namun hal itu makruh.

Mazhab-mazhab yang lain: Wajib mengangkat kepalanya dan beri’tidal, serta disunnahkan membaca tasmi’, yaitu mengucapkan: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya”. Imamiyah mewajibkan thuma’ninah dan tidak bergerak ketika berdiri dari ruku’ itu.


Sujud

Semua ulama mazhab sepakat bahwa sujud itu wajib dilakukan dua kali pada setiap rakaat. Mereka berbeda pendapat tentang batasnya. apakah diwajibkan (yang menempel) itu semua anggota yang tujuh, atau hanya sebagian saja? Anggota tujuh itu adalah: Dahi, dua telapak tangan, dua lutut dan ibu jari dua kaki. Maliki, Syafi’i dan Hanafi: Yang wajib (menempel) hanya dahi sedangkan yang lain-lainnya adalah sunnah. Imamiyah dan Hambali: Yang diwajibkan itu semua anggota yang tujuh, secara sempurna. Bahkan Hambali menambahkan hidung, sehingga menjadi delapan. Perbedaan juga terjadi pada tasbih dan thuma’ninah di dalam sujud, sebagaimana dalam ruku’. Maka mazhab yang mewajibkannya di dalam ruku’ juga mewajibkannya di dalam sujud. Hanafi: Tidak diwajibkan duduk di antara dua sujud itu. Mazhab-mazhab yang lain: Wajib duduk di antara dua sujud itu.


Tahiyyat

Tahiyyat di dalam shalat dibagi menjadi dua bagian: Pertama yaitu tahiyyat yang terjadi setelah dua rakaat petama dari shalat Magh­rib, Isya’, Dzuhur dan Ashar dan tidak diakhiri dengan salam. Yang kedua adalah tahiyyat yang diakhiri dengan salam, baik pada shalat yang dua rakaat, tiga atau empat rakaat. Imamiyah dan Hambali: Tahiyyat pertama itu wajib. Mazhab-mazhab lain: Hanya sunnah, bukan wajib. Sedangkan pada tahiyyat terakhir adalah wajib, menurut Sya­fi’i, Imamiyah dan Hambali. Sedangkan menurut Maliki dan Hanafi: Hanya sunnah, bukan wajib. (Bidayatul Mujtahid, Jilid I. Halaman 125).


Kalimat (lafadz) tahiyyat

Menurut Hanafi:“Kehormatan itu kepunyaan Allah, shalawat dan kebaikan serta salam sejahtera”“Kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya”‘“Semoga kesejahteraan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh”“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”“Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya”. Menurut Maliki:“Kehormatan itu kepunyaan Allah, kesucian bagi Allah, kebaikan dan shalawat juga bagi Allah”“Salam sejahtera kepadamu, wahai Nabi, juga rahmat Allah dan barakah-Nya ““Semoga kesejahteraan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh”“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa”“Tidak ada sekutu bagi-Nya“Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya “. Menurut Syafi’i:“Kehormatan, barakah-barakah, shalawat dan kebaikan adalah kepunyaan Allah ““Salam sejahtera kepadamu wahai Nabi, juga rahmat Allah dan barakah-Nya ““Semoga kesejahteraan tercurah bagi kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh”“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”“Dan aku bersaksi bahwa junjungan kami, Muhammad, adalah utusan Allah”. Menurut Hambali:“Kehormatan itu kepunyaan Allah, juga shalawat dan kebaikan”“Salam sejahtera kepadamu wahai Nabi, juga rahmat Allah dan barakah-Nya”“Semoga kesejahteraan tercurah bagi kami dan juga bagi hamba-hamba Allah yang saleh”“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, yang Esa, tidak ada sekutu baginya”“Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya”“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad”. Menurut Imamiyah:“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya”“Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya”“Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad”.


Mengucapkan Salam

Syafi’i, Maliki dan Hambali: Mengucapkan salam adalah wajib. Hanafi: Tidak wajib. (Bidayatul Mujtahid, Jilid I, halaman 126). Dalam Imamiyah sendiri terjadi perbedaan pendapat: Ada sekelompok Imamiyah yang menyatakan wajib, sedangkan sebagian kelompok lain menyatakan hanya sunnah. Di antara orang yang menyatakan sunnah adalah Al-Mufid Syaikh Al-Thusi dan Al-Allamah Al-Hilli.Menurut empat mazhab, kalimatnya sama yaitu: “Semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian” Hambali: Wajib mengucapkan salam dua kali, sedangkan yang lain hanya mencukupkan satu kali saja yang wajib. Ima­miyah: Mengucapkan (menyampaikan) salam itu ada dua lafadz (kalimat) Pertama: “Semoga kesejahteraan tercurah bagi kami dan bagi para hamba Allah yang saleh”. Kedua: “Semua kesejahteraan tercurah bagi kamu sekalian, juga rahmat Allah, dan barakah-Nya”. Yang wajib itu adalah salah satu, jika telah membaca yang pertama, maka yang kedua itu disunnahkan. Dan jika membaca yang kedua, cukup dengan membaca itu saja dan berhenti disitu. Sedangkan salam:bukan salam yang harus dibaca pada waktu shalat, hanya disunnahkan membacanya setelah tasyahhud.


Tertib

Diwajibkan tertib antara bagian-bagian shalat. Maka takbiratul ihram wajib didahulukan dari bacaan Al-Qur’an (salam atau Al-Fatihah), sedangkan membaca Al-Fatihah wajib didahulukan dari ruku’, dan ruku’ didahulukan dari sujud, begitu seterusnya.

Berturut-turut

Diwajibkan mengerjakan bagian-bagian shalat secara berurutan dan langsung,juga antara satu bagian dengan bagian yang lain. Artinya membaca Al-Fatihah langsung setelah bertakbir (takbiratul ihram) tanpa ada antara (selingan). Dan mulai ruku’ setelah membaca Fatihah atau ayat Al-Qur’an, tanpa selingan, begitu seterusnya. Juga tidak boleh ada selingan lain, antara ayat-ayat, kalimat-kalimat dan huruf-huruf.



X
Donasi yang tertampung akan digunakan untuk perkembangan Aplikasi/website ini, dan sebagian akan disumbangkan untuk Mesjid atau Madrasah

Donasi dapat melalui bank BRI
No Rekening : 416001002997504
Atas Nama : Yudi Mansopyan

Terimakasih..!