® Rajawally Intermezo
Tampilkan postingan dengan label Riyadhus Shalihin>Kitab Etika Tidur & Duduk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riyadhus Shalihin>Kitab Etika Tidur & Duduk. Tampilkan semua postingan

Bab 130. Impian Dan Apa-apa Yang Berhubungan Dengan Impian Itu

قال اللَّه تعالى (الروم 23): { ومن آياته منامكم بالليل والنهار }
Allah Ta'ala berfirman: "Dan setengah daripada tanda-tanda -kekuasaan Tuhan- ialah tidurmu semua diwaktu malam dan siang." (ar-Rum: 23)


وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « لم يَبْقَ مِنَ النُبُوَّة إلا المبُشِّراتُ » قالوا : وَمَا المُبشِّراتُ ؟ قال : « الُّرؤْيَا الصَّالِحةُ » رواه البخاري
835. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, katanya: "Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Tidak ada yang tertinggal dari kenubuwatan itu melainkan hal-hal yang menggembirakan." Para sahabat sama bertanya: "Apakah hal-hal yang menggembirakan itu?" Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Yaitu impian yang baik." (Riwayat Bukhari)


وعنه أن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إذَا اقتَربَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الُمؤْمن تَكذبُ ، وَرُؤْيَا المُؤْمِنِ جُزْءٌ منْ ستَّةٍ وَأرْبَعيَنَ جُزْءًا مِنَ النُبُوةِ » متفق عليه . وفي رواية:« أصْدَقُكُم رُؤْيَا: أصْدُقكُم حَديثاً ».
836. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu pula bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Jikalau zaman sudah dekat -yakni dekat dengan datangnya hari kiamat-, maka impian seorang mu'min itu hampir tidak dusta dan impian seorang mu'min itu adalah sebagian dari empat puluh enam bagian dari kenubuwatan." (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat lain disebutkan: "Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Dan yang terbenar diantara engkau semua tentang impiannya ialah yang terbenar pembicaraannya."


وعنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ رآني في المنَامِ فَسَيَرَانيِ في الَيَقَظَةِ أوْ كأنَّمَا رآني في اليَقَظَةِ لايَتَمثَّلُ الشَّيْطانُ بي » . متفق عليه .
837. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu puta, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Barangsiapa yang bermimpi melihat saya dalam tidur, maka ia akan melihat saya di waktu jaga -yakni melek, dan ini ditakwilkan sewaktu di akhirat nanti- atau seolah-olah ia melihat saya di waktu jaga, karena syaitan itu tidak dapat menyerupakan dirinya dengan diriku," maksudnya tidak dapat menjelmakan diri seperti beliau shalallahu alaihi wasalam itu." (Muttafaq 'alaih)


وعن أبي سعيد الخدريِّ رضي الله عنه أنه سمِع النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « إذا رَأى أَحدُكُم رُؤْيَا يُحبُّهَا فَإنَّما هي من الله تعالى فَليَحْمَدِ الله عَلَيهَا وَلْيُحُدِّثْ بِها وفي رواية : فَلا يُحَدِّثْ بَها إلا مَنْ يُحِبُّ وَإذا رأى غَيَر ذَلك مما يَكرَهُ فإنَّمـا هي منَ الشَّيْطانِ فَليَسْتَعِذْ منْ شَرِّهَا وَلا يَذكْرها لأحد فإنها لا تضُُّره » متفق عليه .
838. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu bahwasanya ia mendengar Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Jikalau seorang diantara engkau semua bermimpi melihat sesuatu impian yang ia menyukainya maka sesungguhnya impian itu adalah dari Allah Ta'ala. Maka dari itu hendaklah mengucapkan pujian kepada Allah atas impian tadi -yakni membaca Alhamdulillah- dan hendaklah memberitahukan impiannya itu -pada orang lain-." Dalam suatu riwayat lain disebutkan: "Maka janganlah memberitahukan impiannya tersebut, kecuali kepada orang yang ia mencintainya. Tetapi jikalau bermimpi melihat impian yang selain demikian -yaitu impian buruk dan tidak disukai-, maka sesungguhnya impian tadi adalah dari syaitan. Oleh karena itu hendaklah ia memohonkan perlindungan kepada Allah daripada keburukannya -yakni membaca ta'awwudz- dan janganlah menyebut-nyebutkannya kepada orang lain, sebab sesungguhnya impian sedemikian itu tidak akan membahayakan dirinya." (Muttafaq 'alaih)


وعن أبي قتادة رضي الله عنه قال : قال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « الرّؤيا الصَّالَحِةُ وفي رواية الرُّؤيَا الحَسَنَةُ منَ الله ، والحُلُم مِنَ الشَّيْطَان ، فَمَن رَأى شَيْئاً يَكرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَن شِمَاله ثَلاَثاً ، ولْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَْيْطان فَإنَّها لا تَضُرُّهُ » متفق عليه . « النَّفثُ » نَفخٌ لطيفٌ لاريِقَ مَعَهُ.
839. Dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu, katanya: "Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Impian yang baik, dan dalam riwayat lain disebutkan: Impian yang indah itu berasal dari Allah dan impian buruk itu dari syaitan. Maka barangsiapa yang melihat sesuatu impian yang ia tidak menyukainya, hendaklah ia meniup di sebelah kirinya sebanyak tiga kali dan hendaklah pula memohonkan perlindungan kepada Allah dari syaitan -yakni membaca ta'awwudz yaitu A'udzu billahi minasy syaithanir rajim-, karena sesungguhnya impian buruk tadi tidak akan membahayakan dirinya." 'Annaftsu artinya tiupan yang dilakukan tiga kali kesebelah kiri, yakni suatu hembusan nafas yang halus tanpa mengeluarkan ludah.


وعن جابر رضي الله عنه عن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إذَا رَأى أحَدُكُم الرُّؤيا يَكْرَهُها فلْيبصُقْ عَن يَسَارِهِ ثَلاَثاً ، وْليَسْتَعِذْ بالله مِنَ الشَّيَطانِ ثَلاثاَ ، وليَتَحوَّل عَنْ جَنْبِهِ الذي كان عليه » رواه مسلم .
840. Dari Jabir radhiyallahu anhu dari Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, sabdanya: "Jikalau seorang diantara engkau semua melihat impian yang ia tidak menyukainya, maka hendaklah ia berludah di sebelah kirinya tiga kali dan hendaklah pula ia memohonkan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan -yakni membaca ta'awwudz- sebanyak tiga kali dan sebaiknya ia beralih dari sebelah yang ia tidur di atasnya tadi -yakni berpindah posisi-." (Riwayat Muslim)


وعن أبي الأسقع واثلة بن الأسقع رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنَّ من أعظَم الفَرى أن يَدَّعِي الرَّجُلُ إلى غَيْرِ أبِيه ، أوْ يُري عَيْنهُ مَالم تَرَ ، أوْ يقولَ على رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَا لَمْ يَقُلْ » رواه البخاري .
841. Dari Abul Asqa' yaitu Watsilah bin al-Asqa' radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Sesungguhnya termasuk sebesar-besar kedustaan ialah apabila seorang itu mengaku-aku pada orang yang selain ayahnya -yakni bukan keturunan si Fulan, tetapi ia mengatakan keturunannya-, atau orang yang mengatakan ia bermimpi melihat sesuatu yang sebenarnya tidak memimpikannya atau ia mengucapkan atas Rasulullah shalallahu alaihi wasalam sesuatu yang tidak disabdakan olehnya -yakni bukan sabda Nabi shalallahu alaihi wasalam dikatakan sabdanya-." (Riwayat Bukhari)


Keterangan:

Dalam hadits diatas disebutkan bahwa diantara sebesar-besar kedustaan ialah:

a. Mengaku kepada seorang yang bukan ayahnya sebagai ayahnya sendiri adalah termasuk dusta terbesar, karena membuat-buat sesuatu atas nama Allah Ta'ala, seolah-olah orang yang berdusta itu mengatakan: "Allah membuat aku dari mani si Fulan itu," padahal sebenarnya bukan orang yang ditunjuk itu yang menyebabkan kejadiannya. Orang yang berbuat demikian itu ada kalanya ingin dihormati atau diagung-agungkan sebab yang diakui sebagai ayahnya adalah seorang pembesar yang berkedudukan tinggi atau orang hartawan, ada kalanya pula karena ingin dianggap keturunan ningrat karena yang diakui sebagai ayahnya adalah seorang bangsawan dan ada kalanya sebab yang lain-lain. Tetapi pada pokoknya disebabkan oleh kesombongan dan menginginkan penghormatan untuk dirinya.

b. Mengatakan bermimpi apa yang tidak dimimpikan, inipun dusta yang amat besar. Adapun sebabnya adalah sebagaimana yang diterangkan sebagai penjelasan yang tertera di bawah ini. Sehubungan dengan dusta dalam hal impian ini, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, yaitu: "Barangsiapa yang mengaku bermimpi dengan sesuatu impian yang sebenarnya tidak dilihatnya, maka -pada hari kiamat nanti- akan dipaksa duduk diantara dua butir biji gandum, tetapi ia tidak mungkin dapat melakukannya."

a. Mengucapkan sesuatu dusta atas nama Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasalam, maksudnya sesuatu yang bukan sabda Nabi shalallahu alaihi wasalam dikatakan sabdanya, atau sesuatu yang disabdakan oleh beliau shalallahu alaihi wasalam itu haram, tetapi dikatakan halal dan demikian pula sebaliknya. Orang semacam itu diancam akan dilemparkan dalam neraka dan diperintahkan mencari tempat kediamannya dalam neraka itu, sebagai tempat duduknya. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan lain-lain dari Anas radhiyallahu anhu menyebutkan: "Barangsiapa yang berdusta atas namaku (Nabi Muhammad) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya atau tempat kediamannya didalam neraka."



Bab 129. Adab-adab Kesopanan Dalam Majelis Dan Kawan Duduk

عن ابنِ عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم « لايُقِيِمَنَّ أحَدُكُمْ رَجُلاً مِنْ مَجْلسهِ ثم يَجْلسُ فِيه ولكِنْ تَوسَعُّوا وتَفَسَّحوا » وَكَان ابنُ عُمَرَ إذا قام َ لهُ رَجُلٌ مِنْ مجْلِسه لَمْ يَجِلسْ فِيه . متفق عليه .
822. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Janganlah seorang diantara engkau semua itu menyuruh berdiri pada seorang dari tempat duduknya kemudian ia sendiri duduk di situ, tetapi berikanlah keluasan tempat serta kelapangan -pada orang lain yang baru datang-." Ibnu Umar itu apabila ada seorang yang berdiri dari tempat duduknya karena menghormatinya, ia tidak suka duduk di tempat orang tadi itu. (Muttafaq 'alaih)


وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول لله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إذا قاَم أحَدُكُمْ منْ مَجْلسٍ ثُمَّ رَجَعَ إلَيْهِ فَهُوَ أحَقُّ بِه » رواه مسلم .
823. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Jikalau seorang diantara engkau semua itu berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia kembali ke situ, maka ia memang lebih berhak untuk menempati tempat duduknya tadi." (Riwayat Muslim)


وعن جابر بنِ سَمُرَةَ رضي اللَّه عنهما قال : « كُنَّا إذَا أَتَيْنَا النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم جَلَسَ أَحَدُنَا حَيْثُ يَنْتَهي » . رواه أبو داود . والترمذي وقال : حديث حسن .
824. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu'anhuma, katanya: "Kita semua itu apabila mendatangi Nabi shalallahu alaihi wasalam, maka setiap seorang dari kita itu duduk di tempat mana ia berakhir -maksudnya tidak sampai melangkahi bahu orang lain untuk menuju ke tempat yang lebih dekat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam" Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.


وعن أبي عبدِ الله سَلْمان الفارِسي رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم :« لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعة وَيَتَطهّرُ ما اسْتَطاعَ منْ طُهر وَيدَّهنُ منْ دُهْنِهِ أوْ يَمسُّ مِنْ طيب بَيْته ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنينْ ثُمَّ يُصَلّي ما كُتِبَ له ُ ثُمَّ يُنْصِتُ إذَا تَكَلَّمَ الإمامُ إلا غُفِرَ لهُ ما بَيْنَهُ وَبَيَْن الجمُعَةِ الأُخْرَى » رواه البخاري .
825. Dari Abu Abdillah yaitu Salman al-Farisi radhiyallahu anhu, katanya: Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Tidaklah seorang itu mandi pada hari Jum'at dan ia bersuci sekuasa yang dapat ia lakukan, juga berminyak dari minyaknya ataupun mengenakan sesuatu dari minyak harum yang ada di rumahnya, kemudian ia keluar -ke masjid-, lalu ia tidak memisah-misahkan antara dua orang -yang sedang duduk-, selanjutnya ia bershalat apa yang ditentukan atasnya -yakni shalat sunnah tahiyyatul masjid- dan seterusnya ia mendengarkan jikalau imam berbicara -atau berkhutbah-, melainkan orang yang melakukan semua itu tentu diampunkan -dosanya- untuknya antara hari Jum'at yang dilakukan itu dengan hari Jum'at yang lainnya -yaitu hari Jum'at berikutnya-."


وعن عمرو بن شُعَيْب عن أبيه عن جده رضي الله عنه أن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « لايحَلُّ لِرَجُل أن يُفَرِّقَ بَيْنَ اثْنيْنِ إلا بإذْنِهِمَا » رواه أبو داود، والترمذي وقال : حديث حسن . وفي رواية لأبي داود : « لايَجلِسُ بَيْنَ رَجُليْن إلا بإذْنِهمَا ».
826. Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari nenek lelakinya radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Tidak halallah bagi seorang itu kalau memisahkan tempat duduk antara dua orang, melainkan dengan izin kedua orang itu." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Janganlah seorang itu duduk antara dua orang -yang sudah duduk lebih dulu-, melainkan dengan izin keduanya."


وعن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه أن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لَعَنَ مَنْ جَلَسَ وَسَطَ الحَلْقَةَ . رواه أبو داود بإسناد حسن .

وروى الترمذي عن أبي مِجْلزٍ أن رَجُلاً قَعَدَ وَسَطَ حَلقْة فقال حُذَيْفَةُ : مُلْعُونٌ عُلَىَ لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أوْ لَعَنَ الله عَلَى لِسَانِ محُمَدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَنْ جَلَسَ وَسَطَ الْحَلْقةِ. قال الترمذي : حديث حسن صحيح .
827. Dari Hudzaifah al-Yaman radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah melaknat kepada orang yang duduk di tengah lingkaran -maksudnya orang-orang banyak duduk di tepi melingkari sesuatu tempat lalu orang itu datang belakangan terus melangkahi bahu mereka dan duduk di tengah-tengah orang banyak-. (Riwayat Abu Dawud dengan isnad hasan) Imam Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Mijlaz bahwasanya ada seorang lelaki duduk di tengah lingkaran, lalu Hudzaifah berkata: "Dilaknat atas lisannya Muhammad shalallahu alaihi wasalam atau Allah melaknat atas lisannya Muhammad shalallahu alaihi wasalam pada orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran." Imam Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.


وعن أبي سعيد الخدريِّ رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول « خَيْرُ الْمَجَالِسِ أوْسَعُهَا » رواه أبو داود بإسناد صحيح على شرطِ البخاري .
828. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu, katanya: "Saya mendengar Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik tempat duduk -yakni majelis- ialah yang terlebar -terluas ruangannya-." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih menurut syarat Imam Bukhari.


وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ جَلَسَ في مَجْلس فَكثُرَ فيهِ لَغطُهُ فقال قَبْلَ أنْ يَقُومَ منْ مجلْسه ذلك : سبْحانَك اللَّهُمّ وبحَمْدكَ أشْهدُ أنْ لا إله إلا أنْت أسْتغْفِركَ وَأتَوبُ إليْك : إلا غُفِرَ لَهُ ماَ كان َ في مجلسه ذلكَ » رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح .
829. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Barangsiapa yang duduk di dalam suatu majelis, lalu banyak senda guraunya yang tidak bermanfaat dalam majelis tadi, lalu ia mengucapkan sebelum berdiri meninggalkan majelis itu, demikian -yang artinya-: "Maha Suci Engkau, ya Allah dan saya mengucapkan puji-pujian padaMu. Saya menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Engkau, saya mohon ampun serta bertaubat padaMu", melainkan orang tersebut pasti diampunkan untuknya apa-apa -yakni dosa- yang diperolehnya dari majelis yang sedemikian tadi." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih


وعن أبي بَرْزَةَ رضي الله عنه قال : كان رسول صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ بآخرة إذَا أرَادَ أنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجِلسِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبَحَمْدكَ أشْهدُ أنْ لا إلهَ إلا أنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَ » فقال رَجُلٌ يارسول الله إنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاَ مَاكُنْتَ تَقُولُهُ فِيَما مَضَى ؟ قال : «ذلكَ كفَّارَةٌ لِماَ يَكُونُ في الْمجْلِسِ » رواه أبو داود ، ورواه الحاكم أبو عبد الله في المستدرك من رواية عائشة رضي الله عنها وقال :صحيح الإسناد.
830. Dari Abu Barzah radhiyallahu anhu katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda pada penghabisannya jikalau beliau shalallahu alaihi wasalam hendak berdiri dari majelis -yang artinya-: "Maha Suci Engkau ya Allah dan saya mengucapkan pujian-pujian padaMu. Saya menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Engkau, saya mohon ampun serta bertaubat padaMu." Kemudian ada seorang lelaki berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Tuan mengucapkan sesuatu ucapan yang tidak pernah Tuan ucapkan sebelum ini?" Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Yang sedemikian itu adalah sebagai penebus dari apa saja -yakni kekurangan-kekurangan atau kesalahan-kesalahan- yang ada di dalam majelis itu." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, juga diriwayatkan oleh Imam Hakim yaitu Abu Abdillah dalam kitab Al-Mustadrak dari riwayat Aisyah radhiallahu 'anha dan ia mengatakan bahwa hadits ini adalah shahih isnadnya.


وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قَلَّمَا كان رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقوم من مَجْلس حتى يَدعُوَ بهؤلاَءِ الَّدعَوَاتِ « الَّلهمَّ اقْسِم لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ ما تحُولُ بِه بَيْنَنَا وبَينَ مَعٌصَِيتِك، ومن طَاعَتِكَ ماتُبَلِّغُنَا بِه جَنَّتَكَ، ومِنَ اْليَقيٍن ماتُهِوِّنُ بِه عَلَيْنا مَصَائِبَ الدُّنيَا . الَّلهُمَّ مَتِّعْنا بأسْمَاعِناَ، وأبْصَارناَ، وِقُوّتِنا ما أحييْتَنَا ، واجْعَلْهُ الوَارِثَ منَّا ، وِاجعَل ثَأرَنَا عَلى مَنْ ظَلَمَنَا، وانْصُرْنا عَلى مَنْ عادَانَا ، وَلا تَجْعلْ مُِصيَبتَنا في دينَنا ، وَلا تَجْعلِ الدُّنْيَا أكبَرَ همِّنا ولا مبلغ عِلْمٍنَا ، وَلا تُسَلِّط عَلَيَنَا مَنْ لا يْرْحَمُناَ » رواه الترمذي وقال حديث حسن .
831. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Jarang sekali Rasulullah shalallahu alaihi wasalam itu berdiri meninggalkan sesuatu majelis, sehingga lebih dulu beliau shalallahu alaihi wasalam berdoa dengan doa-doa di bawah ini -yang artinya-: "Ya Allah, bagikanlah kepada kita dari takut kita padaMu sesuatu yang menghalang-halangi antara kita dengan bermaksiat padaMu. juga dari taat kita padaMu sesuatu yang dapat menyampaikan kita kepada syurgaMu. Demikian pula dari keyakinan yang dapat meringankan kita menghadapi bencana-bencana di dunia ini. Ya Allah, berikanlah kenikmatan kepada kita dengan adanya pendengaran, penglihatan dan kekuatan kita, selama Engkau masih menghidupkan kita dan jadikanlah semua itu sebagai yang tertinggal dari kita -yakni sampai di akhir hayat hendaklah masih dapat digunakan sebaik-baiknya-. Jadikanlah pembalasan kita itu tertuju kepada orang yang menganiaya kepada kita. Berilah kita pertolongan kepada orang yang memusuhi kita dan janganlah dijadikan bencana kita ini menimpa agama kita. Jangan pula menjadikan dunia ini sebagai sebesar-besar perhatian yang kita menuju padanya atau puncak dari ilmu pengetahuan kita -sehingga tidak memberikan kemanfaatan sama sekali untuk urusan akhirat-. Demikian pula janganlah memberikan kekuasaan untuk memerintah kita kepada orang yang tidak belas kasihan kepada kita." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.


وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم « مَا مِنْ قَوْمٍ يَقومونَ منْ مَجْلسٍ لا يَذكُرُون الله تعالى فيه إلا قَاموا عَنْ مِثلِ جيفَةِ حِمَارٍ وكانَ لَهُمْ حَسْرَةً » رواه أبو داود بإسناد صحيح .
832. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Tiada sesuatu kaum pun yang berdiri meninggalkan sesuatu majelis dan tidak sama-sama berdzikir kepada Allah Ta'ala dalam majelis itu, melainkan semua orang itu berdiri bagaikan bangkai keledai dan mereka semuanya memperoleh penyesalan." (Riwayat Abu Dawud dengan isnad shahih)


وعنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَا جَلَسَ قَومٌ مَجْلِساً لم يَذْكرُوا الله تَعَالَى فيه ولَم يُصَُّلوا على نَبِيِّهم فيه إلاَّ كانَ عَلَيّهمْ تِرةٌ ، فإِنْ شاءَ عَذَّبَهُم ، وإنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُم » رواه الترمذي وقال حديث حسن .
833. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu pula dari Nabi shalallahu alaihi wasalam, sabdanya: "Tiada sesuatu kaumpun yang duduk di suatu majelis yang mereka itu tidak berdzikir kepada Allah Ta'ala dalam majelis tadi, juga tidak mengucapkan bacaan shalawat kepada Nabi mereka didalamnya, melainkan atas mereka itu ada kekurangannya. Jikalau Allah berkehendak, maka Allah akan menyiksa kepada mereka dan jikalau Allah berkehendak, maka Allah akan mengampunkan pada mereka." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.


وعنه عن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم « مَنْ قعَدَ مَقْعَداً لم يَذْكُرِ الله تعالى فِيهِ كَانَت عليه مِنَ الله ترَة، وَمَن اضطجَعَ مُضْطَجَعاً لايَذْكرُ الله تعالى فيه كَاَنتْ عَليْه مِنَ الله تِرَةٌ َ» رواه أبو داود . وقد سبق قريبا ، وشَرَحْنَا « التِّرَةَ » فِيهِ
834. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu pula dari Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, sabdanya: "Barangsiapa yang duduk di suatu tempat duduk dan ia tidak berdzikir kepada Allah Ta'ala dalam duduknya itu, maka atasnya adalah kekurangan dari Allah dan barangsiapa yang berbaring di suatu tempat pembaringan dan ia tidak berdzikir kepada Allah Ta'ala dalam berbaringnya itu, maka atasnya adalah kekurangan dari Allah." (Riwayat Abu Dawud) Sudah terdahulu uraian perihal arti Attirah baru-baru ini -yakni dalam Hadis no.813-.



Bab 128. Bolehnya Tidur Telentang Atas Tengkuk Leher, juga Meletakkan Salah Satu Dari Kedua Kaki Jikalau Tidak Dikhawatirkan Terbukanya Aurat Dan Bolehnya Duduk Dengan Bersila Dan Duduk Ihtiba' -Yakni Duduk Berjongkok Sambil Membelitkan Sesuatu Dari Pinggang Ke Lutut Atau Tangannya Merangkul Lutut-

عن عبدِ الله بن يزيد رضي الله عنه أنه رأى رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مُستَلِقياَ في المسَجْدِ وَاضعاً إحْدَى رِجْليْهِ عَلى الأُخْرىَ متفق عليه .
817. Dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu anhu bahwasanya ia melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bertelentang di masjid sambil meletakkan salah satu dari kedua kakinya di atas kaki yang lain." (Muttafaq 'alaih)


وعن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال : « كان النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذَا صَلَّى الْفَجرَ تَرَبَّعَ في مَجْلِسِهِ حتَّى تَطْلُعَ الشَّمسُ حَسْنَاء » حدِيث صحيح ، رواه أبو داود وغيره بأسانيد صحيحة.
818. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu 'anhuma, katanya: "Nabi shalallahu alaihi wasalam itu apabila telah shalat fajar -yakni shalat subuh- lalu beliau duduk bersila di tempat duduknya sehingga terbitnya matahari yang putih indah sinarnya." Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan lain-lainnya dengan beberapa isnad yang shahih


وعنِ ابن عمر رضي الله عنهما قال : رأيت رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بفناء الكَعْبِةَ مُحْتَبياً بِيَدَيْهِ هكَذَا ، وَوَصَفَ بِيَدِيِه الاحْتِباء، و َهُوَ القُرفُصَاء رواه البخاري.
819. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasalam ada di halaman Ka'bah sambil duduk ihtiba' -pantat di tanah dan kedua betis ditegakkan- dengan kedua tangannya -yakni dengan merangkulkan kedua tangannya pada lutut-, demikian." Ibnu Umar menjelaskan dengan kedua tangannya cara duduk ihtiba' Nabi shalallahu alaihi wasalam yaitu semacam berjongkok. (Riwayat Bukhari)

وعن قَيْلَةَ بِنْت مَخْرمَةَ رضي الله عنها قالت : رأيتُ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وهو قَاعِدٌ القُرَفُصَاءَ فلما رأيتُ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم المُتَخَشِّعَ في الِجْلسةِ أُرْعِدتُ مِنَ الفَرَقِ . رواه أبو داود ، والترمذي.
820. Dari Qailah binti Makhramah radhiallahu 'anha, katanya: Saya melihat Nabi shalallahu alaihi wasalam dan beliau sedang duduk berjongkok. Setelah saya melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasalam yang amat tenang dalam duduknya itu, lalu saya berdebar-debar karena ketakutan -kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi-." (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi.


وعنِ الشَّريد بن سُوَيْدٍ رضي الله عنه قال : مر بي رسولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَأنا جَالس هكذا ، وَقَدْ وَضَعتُ يَديِ اليُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِي وَاتَّكأْتُ عَلَى إليْة يَدِي فقال : أتقْعُدُ قِعْدةَ المَغضُوبِ عَلَيهْمْ ، رواه أبو داود بإسناد صحيح ٍ.
821. Dari as-Syirrid bin Suwaid radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berjalan melalui saya dan saya sedang duduk demikian, yaitu saya meletakkan tangan saya sebelah kiri di belakang punggungku dan saya bersandar pada ujung tanganku, lalu beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Adakah engkau ini duduk sebagaimana duduknya orang-orang yang dimurkai? -yakni cara duduknya orang Yahudi-" (Riwayat Abu Dawud dengan isnad shahih)




Bab 127. Kitab Kesopanan Tidur, Adab-adab Kesopanan Tidur Dan Berbaring

عن الْبَراءِ بن عازبٍ رضيَ اللَّه عنهما قال : كَانَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذا أَوَى إلى فِرَاشِهِ نَامَ عَلى شِقَّهِ الأَيمنِ ، ثُمَّ قال : « اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إليْكَ ، وَوجَّهْتُ وَجْهي إلَيْكَ ، وفَوَّضْتُ أَمْرِي إلَيْكَ ، وَأَلجَأْتُ ظهْري إلَيْكَ ، رَغْبةً وَرهْبَةً إلَيْكَ ، لا مَلْجأ ولا مَنْجى مِنْكَ إلاَّ إلَيْكَ ، آمَنْتُ بِكتَابكَ الذي أَنْزلتَ ، وَنَبيِّكَ الذي أَرْسَلْتَ » . رواه البخاري بهذا اللفظ في كتاب الأدب من صحيحه .
811. Dari al-Bara' bin 'Azib radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam itu apabila menempatkan diri pada tempat tidurnya, maka beliau tidur atas belahan tubuhnya yang sebelah kanan, lalu mengucapkan -yang artinya-: "Ya Allah, saya menyerahkan jiwaku padaMu, saya hadapkan wajahku padaMu, saya haturkan urusanku padaMu, saya tempatkan punggungku padaMu. Demikian itu adalah karena kecintaan serta ketakutanku padaMu. Tiada tempat berdiam dan tiada pula tempat menyelamatkan diri daripadaMu, melainkan kepadaMu. Saya beriman kepada kitab yang Engkau turunkan serta kepada Nabi yang Engkau utus." Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan lafaz ini dalam kitab al-Adab dari kitab shahihnya.


وعنه قال : قال لي رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إذَا أَتَيْتَ مَضْجَعكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلى شِقِّكَ الأَيمَنِ ، وَقُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إليْكَ ، وَوجَّهْتُ وَجْهي إلَيْكَ ، وفَوَّضْتُ أَمْرِي إلَيْكَ ، وَأَلجَأْتُ ظهْري إلَيْكَ ، رَغْبةً وَرهْبَةً إلَيْكَ ، لا مَلْجأ ولا مَنْجى مِنْكَ إلاَّ إلَيْكَ ، آمَنْتُ بِكتَابكَ الذي أَنْزلتَ ، وَنَبيِّكَ الذي أَرْسَلْتَ » « واجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقول » متفقٌ عليه .
812. Dari al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu anhu pula, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda kepadaku: "Jikalau engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu'lah dulu sebagaimana wudhu'mu untuk shalat, kemudian berbaringlah pada belahan tubuhmu sebelah kanan dan ucapkan "Ya Allah, saya menyerahkan jiwaku padaMu, saya hadapkan wajahku padaMu, saya haturkan urusanku padaMu, saya tempatkan punggungku padaMu. Demikian itu adalah karena kecintaan serta ketakutanku padaMu. Tiada tempat berdiam dan tiada pula tempat menyelamatkan diri daripadaMu, melainkan kepadaMu. Saya beriman kepada kitab yang Engkau turunkan serta kepada Nabi yang Engkau utus." "Jadikanlah ucapan di atas itu sebagai kalimat yang terakhir sekali engkau ucapkan -sebelum tidur itu-." (Muttafaq 'alaih)


وعن عائشةَ رضيَ اللَّه عنها قالتْ : كَانَ النَّبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَصلِّي مِن اللَّيْلِ إحْدَى عَشَرَةَ رَكْعَةً ، فَإذا طلَع الْفَجْرُ صَلَّى ركْعَتيْنِ خَفِيفتيْنِ ، ثمَّ اضْطَجَعَ على شِقِّهِ الأيمن حَتَّى يَجِيءَ المُؤَذِّنُ فيُوذِنَهُ ، متفق عليه .
813. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Nabi shalallahu alaihi wasalam itu shalat dari sebagian waktu malam sebanyak sebelas rakaat. Kemudian apabila fajar telah menyingsing, beliau shalallahu alaihi wasalam shalat dua rakaat yang ringan sekali, kemudian beliau berbaring atas belahan tubuhnya yang sebelah kanan, sehingga juru adzan datang lalu ia memberitahukan pada beliau -tentang sudah berkumpulnya para manusia yang hendak shalat subuh dengan berjamaah-." (Muttafaq 'alaih)


وعن حُذَيْفَةَ رضي اللَّه عنه قال : : كان النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدهُ تَحْتَ خَدِّهِ ، ثمَّ يَقُولُ : « اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أمُوتُ وَ أَحْيَا » وإذا اسْتيْقَظَ قَالَ : «الحَمْدُ للَّهِ اَلَّذي أَحْيَانَا بعْدَ مَا أَمَاتَنَا وإليه النُّشُورُ » . رواه البخاري .
814. Dari Hudzaifah radhiyallahu anhu, katanya: "Nabi shalallahu alaihi wasalam itu apabila mengambil tempat tidurnya di waktu malam, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya lalu mengucapkan -yang artinya-: "Ya Allah, dengan namaMulah saya mati dan hidup," dan apabila beliau bangun, lalu mengucapkan -yang artinya-: "Segenap puji bagi Allah yang memberikan kehidupan kepada kita sesudah mematikan kita dan kepadaNya tempat kembali." (Riwayat Bukhari)


وعن يعِيشَ بنِ طخْفَةَ الغِفَارِيَّ رضي الله عنهما قال : قال أبي «بينما أنَا مضُطَجِعٌ في الْمسَجِدِ عَلَى بَطْنِي إذَا رَجُلٌ يُحَرِّكُنِي بِرِجْلهِ فقال « إنَّ هذِهِ ضَجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللهُ » قال : فَنَظرْتُ ، فإذَا رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم رواه أبو داود بإسنادٍ صحيح .
815. Dari Ya'isy bin Tikhfah al-Ghifari radhiallahu 'anhuma, katanya: "Ayahku berkata: Pada suatu ketika saya berbaring dalam masjid atas perutku, tiba-tiba ada seorang lelaki yang menggerak-gerakkan saya dengan kakinya, lalu berkata: "Sesungguhnya cara tidur yang sedemikian ini adalah cara berbaring yang dibenci oleh Allah." Ayahku berkata: "Kemudian saya melihat orang itu, tiba-tiba ia adalah Rasulullah shalallahu alaihi wasalam" Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.


وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ قَعَدَ مَقْعَداً لَمْ يَذْكُرِ الله تعالى فِيهِ كَانَتْ عَلَيِهِ مِنَ الله تعالى تِرةٌ ، وَمَنِ اضْطَجَعَ مُضْطَجَعاً لاَيَذْكُرُ الله تعالى فِيهِ كَانَتْ عَلْيِه مِن اللهِ تِرةٌ » رواه أبو داود بإسنادِ حسن
816. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, katanya: "Barangsiapa yang duduk di suatu tempat duduk dan ia tidak berdzikir kepada Allah Ta'ala dalam duduknya itu, maka atas orang itu ada kekurangan dari Allah dan barangsiapa yang berbaring di suatu tempat pembaringan dan ia tidak berdzikir kepada Allah Ta'ala dalam berbaringnya itu, maka atas orang itu ada kekurangan dari Allah." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.



X
Donasi yang tertampung akan digunakan untuk perkembangan Aplikasi/website ini, dan sebagian akan disumbangkan untuk Mesjid atau Madrasah

Donasi dapat melalui bank BRI
No Rekening : 416001002997504
Atas Nama : Yudi Mansopyan

Terimakasih..!